Tampilkan postingan dengan label Bilateral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bilateral. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2012

Menhan Lakukan Kunjungan Kerja ke China


20 Februari 2012, Beijing, China: Memenuhi undangan Menteri Pertahanan (Menhan) RRT, Jenderal Liang Guanglie, Menhan RI Purnomo Yusgiantoro memulai kunjungan resminya ke Beijing, 19 - 21 Februari 2012.

Delegasi yang dipimpin oleh Menhan RI tersebut terdiri dari , antara lain, Wakasal Laksdya TNI Marsetio, Dirjen Strahan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, dan Karo TU Kemhan Laksma TNI Yuhastiar. Duta Besar RI untuk RRT Imron Cotan turut mendampingi delegasi yang dipimpin oleh Menhan RI Purnomo Yusgiantoro tersebut.

Segera setelah mendarat di Beijing dari tanah air, hari pertama Menhan RI diisi dengan kunjungan, diskusi, serta peninjauan ke dua kompleks industri pertahanan (Inhan) RRT yang terkait dengan produksi peluru kendali darat ke darat, darat ke udara, serta udara ke darat. Di akhir pertemuan, kedua pihak menyepakati untuk melakukan kerjasama Inhan, termasuk 'transfer of technology', yang menguntungkan kedua belah-pihak (win-win solution).

Selanjutnya kunjungan resmi Delegasi Kemhan yang dipimpin oleh Menhan RI tersebut direncanakan akan melakukan pertemuan dan perundingan dengan mitranya, Menhan RRT Jenderal Liang Guanglie, tukar-menukar pikiran dengan salah-satu lembaga riset/produksi Inhan terkemuka lainnya, serta melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Kepala Komite Sentral Militer RRT, Jenderal Guo Boxiong, orang pertama di Angkatan Perang (PLA) RRT (20 Februari 2012).

Kunjungan resmi Menhan RI akan ditutup dengan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri Li Keqiang (21 Februari 2012) yang diperkirakan banyak pihak akan menduduki jabatan Perdana Menteri RRT di masa mendatang.

Kerjasama Militer RI-RRT Mencapai Tingkat Tertinggi Dalam Sejarah Hubungan Kedua Negara

Hubungan Tiongkok dan Indonesia dapat ditelusuri sejak berabad-abad yang silam dan kini, hubungan kedua negara sedang berada pada puncaknya. Pada tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao telah menandatangani Deklarasi Bersama Kemitraan Strategis. Pada tahun 2010 telah ditandatangani Plan of Action 2010-2015 yang mencakup pengembangan kerjasama di bidang politik dan keamanan, ekonomi dan pembangunan serta sosial budaya sebagai upaya implementasi Kemitraan Strategis dimaksud.

Ketika PM Wen Jiabao berkunjung ke Indonesia April 2011, bersama-sama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah dikeluarkan Joint Communiqué untuk memperdalam dan memperluas kerjasama khususnya di bidang ekonomi dan investasi. Kedua Negara juga menikmati meningkatnya volume perdagangan di mana pada tahun lalu (2011), berdasarkan perhitungan RRT, sudah mencapai US$ 60 milyar, mendekati target yang ditetapkan oleh kedua pemimpin bangsa yaitu US$ 80 milyar pada tahun 2014. Investasi mencapai US$ 1 milyar dan turis RRT yang berkunjung ke Indonesia sekitar 600.000, meningkat 50% dibandingkan tahun lalu.

Demikian antara lain disampaikan oleh Dubes RI untuk RRT merangkap Mongolia pada kesempatan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pertahanan (Menhan) RRT Jenderal Liang Guanglie pada tanggal 16 Januari 2012.

Lebih lanjut Dubes RI mengatakan bahwa di bidang militer, hubungan dan kerjasama pun berjalan lancar. Saling kunjung antar pejabat tinggi militer kedua negara terlihat meningkat sejak tahun 2007. Memenuhi undangan Menhan RI Purnomo, Menhan RRT telah berkunjung ke Indonesia pada tahun 2011, sekaligus menghadiri ASEAN Defense Ministerial Meeting (ADMM). Dalam waktu dekat ini, direncanakan delegasi tingkat tinggi Kementerian Pertahanan Indonesia akan berkunjung ke RRT.

Sementara itu, tercatat berbagai bentuk kerjasama dan kegiatan seperti pelatihan personil, pelatihan pilot pesawat tempur, penyediaan alutsista RRT, pembentukan berbagai mekanisme dialog dan konsultasi serta penandatanganan MoU Kerja Sama Industri Strategis dan Pertahanan mencerminkan tingginya bobot hubungan militer kedua negara. Demikian juga latihan bersama antar pasukan khusus kedua negara di bidang anti terorisme yang oleh Menhan RRT dinilai sebagai terobosan baru hubungan militer kedua negara. Oleh karenanya, Menhan RRT mengatakan bahwa kerjasama RI-RRT telah mencapai titik tertinggi dalam sejarah hubungan kedua negara. Terlepas dari berbagai capaian tersebut, kedua pihak sepakat untuk mengkaji lebih lanjut mengenai kemungkinan pengembangan kerjasama di sektor lainnya dalam upaya mendorong kerjasama militer kedua negara ketingkat yang lebih tinggi lagi.

Menhan RRT juga mengatakan bahwa militer Tiongkok juga sangat memandang penting hubungan bersahabat dengan militer Indonesia. Menghadapi perkembangan dinamis khususnya kawasan Asia-Pasifik, RRT dan RI sebagai dua negara besar di Asia perlu untuk mempererat kerjasama demi terjaganya stabilitas dan keamanan kawasan bersama-sama dengan kekuatan-kekuatan di kawasan dan luar kawasan.

Sumber: KBRI Beijing

Jumat, 17 Februari 2012

RI-China Perkuat Kerja Sama Pertahanan

Rudal C-705.

17 Februari 2012, Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat China sepakat memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara, yang telah terjalin baik, utamanya dalam industri pertahanan.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin saat ditemui ANTARA di Jakarta, Jumat petang mengatakan, komitmen memperkuat kerja sama industri pertahanan keduua negara menjadi salah satu topik utama bahasan antara Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dengan mitranya Menteri Pertahanan China Jenderal Liang Guanglie di Beijing pekan depan.

"Kami sudah melakukan banyak kerja sama baik pendidikan dan latihan pertukaran perwira dan lainnya, dan kita juga telah merintis beraam kerja sama industri pertahanan," kata Brigjen Hartind Asrin.

Kerja sama pertahanan kedua negara sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, hingga pada 2006 telah dirintis forum konsultasi bersama yang pertama di Jakarta dan dilanjutkan dengan forum konsultasi bilateral kedua pada 2007 di Beijing.

Forum tersebut sangat baik dan dapat membantu dalam meningkatkan hubungan kerja sama pertahanan kedua negara, yang telah dibuktikan dengan dilakukannya penandatanganan Defence Cooperation Agreement (DCA) antara Indonesia-China pada 2007.

Meskipun DCA tersebut masih dalam proses ratifikasi di Indonesia dan belum dapat dilaksanakan,Menhan Purnomo mengharapkan forum konsultasi bilateral kedua negara dapat terus dilaksanakan sebagai wahana untuk meningkatkan hubungan bilateral bidang pertahanan.

Selain melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan China, Menhan Purnomo Yusgiantoro juga berencana melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang.

Tak hanya itu, Menhan juga berencana meninjau perusahaan roket dan peluru kendali China ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co.Ltd) dan China Precision Machinery Impor-Export Cooperation terkait proyek peluru kendali C-705 yang diadakan untuk TNI Angkatan Laut.

Sumber: ANTARA News

Kamis, 16 Februari 2012

Wamenhan RI Terima Kunjungan Dubes Slovakia


16 Februari 2012, Jakarta: Wakil Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddn, Kamis (16/2) menerima Duta Besar Slovakia untuk Indonesia, Stefan Rozkopal di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta. Maksud kunjungan Dubes Slovakia ini adalah membahas peluang kerjasama di bidang pertahanan, khususnya industri peralatan militer serta pendidikan dan pelatihan personel yang dapat dilaksanakan oleh kementerian pertahanan kedua negara. Dubes Slovakia ini menyampaikan bahwa di negaranya memiliki salah satu training center yang terbaik di negara-negara anggota NATO. Saat menerima Dubes Slovakia, Wamenhan didampingi Ses Dirjen Strahan, Brigjen TNI I Wayan Midhio dan Ses Baranahan Kemhan, Laksma TNI Ir. Antonius Djonie Gallaran, M.M.

Sumber: DMC

Rabu, 08 Februari 2012

Menhan Terima Delegasi US-ASEAN Business Council Jajaki Kerjasama Industri Pertahanan

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) didampingi Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo (kedua kanan) saat mempimpin pertemuan dengan delegasi US-ASEAN Business Council di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (8/2). Pertemuan dengan US-ASEAN Business Council yang mewakili sekitar 100 perusahaan Amerika tersebut membahas hubungan bilateral di sektor perdagangan, penguatan ekonomi dan integrasi ekonomi. (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari/pd/12)

8 Februari 2012, Jakarta: Menteri Pertahanan Republik Indonesia Pramono Yusgiantoro menerima kunjungan Delegasi US-ASEAN Business Council, yang dipimpin Alexander C Feldman, di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Rabu (8/2).

"Kunjungan ini adalah bagian dari serangkaian kunjungan rutin tahunan ke Indonesia dalam rangka mempererat hubungan dan kerjasama dengan pemerintah Indonesia," kata Sekjen Kemhan Marsekal Madya Erris Hariyanto, usai mendampingi Menhan RI dalam pertemuan dengan Delegasi US-ASEAN Business Council.

Menurut Erris, delegasi tersebut ke menteri pertahanan untuk membicarakan kemungkinan kerjasama industri pertahanan. Sementara ini baru sebatas penjajakan. "Dia mau bekerjasama kalau diperlukan di Indonesia. Tadi sudah disampaikan juga kita sudah bekerjasama dengna Amerika. Intinya hanya mengenalkan ada bisnis council ASEAN yang bisa bekerjasama belum sampai pada penawaran," ujar Erris.

Erris menambahkan, dalam pertemuan tersebut juga menyinggung soal-soal prinsip yang sudah berjalan, di antaranya terkait dengan keamanan ASEAN. Selain itu, mereka juga menanyakan hasil pertemuan ASEAN. "Untuk menjaga keamanan ASEAN selama ini. Khususnya hasil pertemuan ASEAN Defence Minister Meeting," urai Erris.

Sebelumnya, Menhan telah bertemu utusan Amerika Serikat untuk bicara soal strategi pertahanan terkait komitmen keamanan di Asia Pasifik.

US-ASEAN Business Council mewakili sekitar 100 perusahaan besar Amerika Serikat, yaitu perusahaan-perusahaan yang telah mempunyai usaha selama lebih dari 100 tahun sampai dengan perusahaan-perusahaan yang baru saja mempunyai kegiatan usahanya di ASEAN. US ASEAN Business Council telah didedikasi untuk mengefektifkan hubungan bilateral negara-negara ASEAN dengan Amerika Serikat melalui kekuatan ekonomi dan perdagangan. Di sektor finacial, salah satu agendanya adalah integrasi ekonomi ASEAN.

Sumber: InfoPublik

Selasa, 07 Februari 2012

Parlemen Belanda Tolak Jual Tank Leopard ke RI

Leopard 2A6 HEL. (Foto: Hellenic Army)

7 Februari 2012, Senayan: Parlemen Belanda telah bersikap dan memutuskan secara resmi melarang menjual tank Leopard pada Pemerintah RI. Bahkan, Parlemen Belanda mengancam memberikan sanksi pada pemerintahannya, jika tetap nekat menjual Tank Leopard ke tentara RI.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin, atas hasil pertemuan anggota Parlemen Belanda dengan anggota Komisi I DPR pada pekan kemarin.

"Jadi, pada Minggu kemarin (5/2), salah satu anggota parlemen Belanda dari Partai Groenlink bernama Mariko Peters, datang dan melakukan pertemuan dengan Komisi I DPR," tegas Tubagus Hasanuddin di Gedung DPR, Selasa (7/2).

Menurut Hasanuddin, anggota Parlemen Belanda tersebut diterima oleh anggota Komisi I Helmy Fauzi. Intinya, dalam pertemuan tersebut, anggota Parlemen Belanda tersebut menyampaikan informasi bahwa Parlemen Belanda memutuskan, melarang penjualan Tank Leopard.

"Bahkan mereka mengancam pemerintahannya sendiri, jika sampai nekat menjual Tank Leopard itu ke Indonesia," tambahnya.

Menurut Hasanuddin, berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh anggota parlemen Belanda tersebut, salah satu alasan Parlemen Belanda tidak menyetujui penjualan tank Leopard ke RI adalah terkait pelanggaran HAM.

"Kalau itu alasannya, jelas kita juga membantahnya,soal praktek pelanggaran HAM itu. Karena Belanda juga telah melanggar HAM berat dengan menjajah rakyat dan bangsa Indonesia selama 3,5 abad. Itu riil dan fakta,"ujarnya.

Jadi,kata Hasanuddin, dengan penjelasan yang telah disampaikan oleh anggota Parlemen Belanda tersebut, tertutup sudah pintu pembelian Tank Leopard sebagaimana direncanakan Kemenhan selama ini.

"Cukup berat Belanda menjual Leopardnya ke RI. Jadi pemerintah sudah tidak perlu lagi banyak berharap dapat memiliki Tank Leopard dari Belanda. Karena Parlemen Belanda sudah mengeluarkan larangan penjualan Leopard ke RI. Makanya, saya juga setuju dengan sikap KASAD. 'Lu jual,gua beli. Lu tidak jual, gua tidak maksa'. Itu sudah pas sikap seperti itu, saya setuju," tegasnya.

Sumber: Jurnal Parlemen

Senin, 06 Februari 2012

Wamenhan Serahkan Draft Kerjasama Pertahanan RI-Belanda Kepada Dubes Belanda Untuk Indonesia


6 Pebruari 2012, Jakarta: Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Senin (6/2), menerima kunjungan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia HE Tjeerd D Zwaan, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Saat menerima Dubes Belanda, Wamenhan menyerahkan draft peningkatan kerjasama pertahanan antara Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda. Draft kerjasama pertahanan yang didalamnya terdapat draft kerjasama kesehatan dan pengadaan alutsista ini diharapkan dapat meningkatkan hubungan baik antara dua Kementerian Pertahanan masing-masing negara. Saat menerima Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Wamenhan didampingi oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen TNI R Ediwan Prabowo S.IP dan Dirjen Strategi Pertahanan Kemhan Mayjen TNI Puguh Santoso.

Kemhan RI - Jerman Siapkan MoU untuk Peningkatan Kerjasama Pertahanan


Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Senin (6/2), menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Jerman untuk Indonesia HE Dr Norbert Baas di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Wamenhan menyampaikan keinginannya agar Dubes Jerman untuk Indonesia membantu menghubungkan dengan Kementerian Pertahanan Jerman untuk meningkatkan kerjasama pertahanan khususnya kerjasama pengadaan alutsista. Hal ini berhubungan dengan akan berangkatnya Wamenhan ke Berlin Jerman pada 27 Februari mendatang.

Sementara itu, menurut Dubes Jerman, MoU yang disiapkan Kemhan RI sudah disetujui dan hanya menunggu penandatanganannya saja. Saat menerima Dubes Jerman, Wamenhan didampingi oleh Dirjen Strategi Pertahanan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen TNI R Ediwan Prabowo dan Direktur Kerjasama Internasional Ditjen Strahan Kemhan Kol. Dr Jan Pieter Ate.

Sumber: DMC

Minggu, 29 Januari 2012

Panglima TNI: Kalau Peralatan Militer Tidak Berguna, Kita Tidak Beli

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq (kanan), dan Dubes Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov, berbincang saat pertemuan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (26/1). (Foto: ANTARA/Ismar Patrizki/ss/ama/12)

30 Januari 2012, Jakarta: Pinjaman luar negeri untuk belanja peralatan militer masih tersisa 80 persen. Dubes Rusia mewakili negaranya yang meminjamkan US$ 1 miliar kepada Indonesia sempat mempertanyakan pinjamannya yang tidak terserap dengan baik itu.

Panglima TNI, Laksamana (TNI) Agus Suhartono mengatakan peralatan militer dengan pinjaman luar negeri disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. “Kalau kita beli senjata dari pinjaman luar negeri, kita hitung secara benar, bisa digunakan apa tidak,” kata Agus Suhartono kepada itoday, sebelum rapat dengan Komisi I DPR, Jakarta, Senin (30/1).

Menurut Agus, pembelian peralatan militer dari pinjaman luar negeri tidak seharusnya dibelanjakan semua. “Kalau peralatan militer itu tidak bisa digunakan, kita tidak membeli,” paparnya.

Ia juga mengatakan, selama ini, pemerintah tidak menyalahi perjanjian dengan Rusia dalam pinjaman pembelian peralatan militer.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Komisi I DPR kedatangan Dubes Rusia yang mempertanyakan pinjaman US$1 miliar ke pemerintah Indonesia untuk pembelian peralatan militer, tapi baru digunakan US$200, sisanya RpUS$800 masih belum dibelanjakan.

Enggartiasto Kritik Ketergantungan Pemerintah pada Dana Asing

Anggota Komisi I DPR RI Enggartiasto Lukita mengkritik kegemaran pemerintah yang terus meminjam dana dari asing, termasuk dalam upaya pembiayaan modernisasi alutsista TNI.

"Meski modelnya atau namanya berubah-ubah, dulu istilahnya kredit ekspor (KE), terus berubah lagi APP, terus sekarang berubah lagi istilahnya menjadi Pinjaman Luar Negeri (PLN) tetap saja itu judulnya pinjam dana asing," tegas Enggartiasto dalam rapat gabungan antara Menhan, Menkeu, dan Panglima TNI soal pembiayaan modernisasi alutsista TNI di Komisi I DPR, Senin (30/1).

Seperti diketahui, pemerintah mengalokasikan pembiayaan modernisasi alutsista TNI hingga 2014 dari sumber pendanaan PLN sebesar 6,5 miliar dolar AS.

Enggartiasto pun mempertanyakan, kenapa pembiayaan modernisasi alutsista TNI itu tidak dilakukan lewat pinjaman dalam negeri (PDN) saja. Karena sesungguhnya banyak sumber pendanaan PDN yang bisa dimaksimalkan. Sehingga selain menekan ketergantungan dari dana asing, ini juga menjadi tekad kuat bagi kemandirian bangsa ini.

"Dulu saya dengar Bank Mandiri saat dipimpin Pak Agus Martowardojo ini telah menawarkan untuk pinjaman PDN untuk keperluan produksi alutsista bagi BUMN. Kenapa itu tidak didorong ke arah sana saja. Terlebih saat ini Menteri Keuangannya Bapak sendiri. Dengan demikian kita tidak lagi ketergantungan dana asing untuk melakukan modernisasi alutsista bagi TNI ini," tegas politisi Golkar ini.

Lebih lanjut Enggartiasto mengatakan, perlunya pemerintah terus menekan ketergantungan pinjaman dana dari luar negeri, untuk berbagai keperluan pembangunan dalam negeri, termasuk soal modernisasi alutsista TNI ini. Terlebih selama ini Presiden sendiri yang menyatakan demikian.

"Sehingga itu jangan lagi sekadar janji dan statement saja. Tetapi harus diwujudkan dalam komitmen yang nyata. Karena semakin kita ketergantungan dana asing, membuat kita kian tidak berdaya atas peranan asing dalam urusan dalam negeri kita ini," tegasnya.

Sumber: Indonesia Today/Jurnal Parlemen

Rabu, 30 November 2011

SBY Usulkan Industri Pertahanan Salah Satu Prioritas Kerja Sama RI-Jerman

Presiden Republik Federal Jerman Christian Wulff (kanan) melambaikan tangan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum meninggalkan Istana Merdeka di Jakarta, Kamis (1/12). Presiden Yudhoyono dan Presiden Wulff membahas berbagai kemajuan dalam kerjasama bilateral Indonesia - Jerman, di mana hubungan diplomatik kedua negara akan menginjak usia 60 tahun pada tahun 2012. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/ss/nz/11)

1 Desember 2011, Jakarta (Jurnas.com): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengusulkan lima bidang prioritas kerja sama strategis antara Indonesia dan Jerman. Kelima prioritas tersebut meliputi bidang investasi dan perdagangan, kesehatan, pendidikan, riset dan teknologi, energi bersih dan industri pertahanan.

Presiden SBY menyampaikan hal itu dalam jumpa pers bersama Presiden Republik Federal Jerman, Christian Wulff, usai melakukan pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (1/12).

Presiden SBY menjelaskan, volume perdagangan antara Indonesia dan Jerman saat ini mencapai US$6 Miliar atau naik 22 persen dari tahun sebelumnya. Investasi tahun terakhir mencapai US$300 Juta lebih, tetapi hal ini masih sangat bisa ditingkatkan lebih tinggi lagi.

Sedangkan untuk bidang kesehatan, Presiden SBY mengatakan teknologi dan manajemen kesehatan Jerman dianggap sangat maju. “Kami berharap bisa bekerja sama di sini,” SBY menyampaikan.

Pendidikan juga menjadi salah satu hal bidang yang diajukan Presiden SBY. Meskipun saat ini cukup banyak warga negara Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman, Presiden SBY berharap kerja sama di bidang ini bisa lebih erat lagi.

“Kami ingin kerja sama ini antara lain menyangkut pada pendidikan di bidang teknologi. Kami membutuhkan ribuan insinyur yang akan membangun infrastruktur, mengembangkan industri dan konektifitas di Indonesia 10, 20, 30 tahun mendatang,” kata SBY.

Presiden SBY juga ingin kerja sama RI dan Jerman dalam bidang energi khususnya energi bersih dari sumber Geotermal.

Menyangkut kerja sama di bidang industri pertahanan, Presiden mengusulkan kerja sama yang strategis dan jangka panjang, misalnya bukan hanya procurement, pengadaan, tetapi juga joint investment dan juga ada joint production.

Sumber: Jurnas

Indonesia-Belgia Jajaki Kejasama Industri Pertahanan

(Foto: DMC/Sapardi)

30 November 2011, Jakarta (DMC): Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dengan didampingi Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, S.Ip., M.A, Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI R. Ediwan Prabowo, S.Ip, dan Dirtekind Ditjen Pothan Kemhan Brigjen TNI Ir. Agus Suyarso menerima kunjungan Duta Besar Belgia untuk Indonesia Christian Tanghe beserta rombongan, Rabu (30/11), di kantor Kemhan Jakarta. Maksud kunjungannya kali ini diantaranya untuk menjajaki kemungkinan kerjasama di bidang industri pertahanan antara kedua negara.

Sumber: Kemhan

Rabu, 23 November 2011

Forum Kebijakan Pertahanan Ke-2 Indonesia – Jerman


23 November 2011, Jakarta (DMC): Untuk yang ke dua kalinya Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bersama Kementerian Pertahanan Republik Jerman menggelar Forum Pembicaraan Kebijakan di Bidang Pertahanan. Forum tersebut di gelar, Rabu (23/11) di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.

Direktur Kerjasama Internasional Strahan Kemhan RI, Brigjen TNI Abdul Chasib selaku ketua delegasi Indonesia membuka forum pembicaraan dengan beberapa agenda pembahasan. Selaku ketua delegasi Jerman adalah Asisten Deputi Kepala Staf Angkatan Bersenjata untuk Urusan Politik-Militer dan Pengendalian Senjata Kementerian Pertahanan Jerman, Brigjen Hans – Werner Wiermann.

Pada kesempatan forum tersebut delegasi Indonesia menyampaikan agenda pembahasan yang mencakup tentang keamanan regional Asia Tenggara dan hubungan bilateral serta keterlibatan Indonesia untuk Misi Perdamaian PBB. Sedangkan delegasi Jerman menyampaikan agenda pembahasan tentang situasi politik pertahanan dan keamanan Jerman.

Usai mengikuti forum pembicaraan, kedua delegasi tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerjasama di bidang pertahanan antara Kementerian Pertahanan RI dan Kementerian Pertahanan Jerman.

Sementara itu kerjasama bidang pertahanan yang ditandatangani itu meliputi kebijakan pertahanan, kebijakan militer dan keamanan, pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta bidang lainnya seperti bantuan kemanusiaan, bencana alam, pelayanan kesehatan dan Peacekeeping.

Adapun tujuan dari MoU ini adalah dalam rangka menyediakan kerangka kerja untuk mempromosikan kerjasama bilateral berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, saling menguntungkan serta menghormati kedaulatan penuh dan integritas teretorial.

Rencananya seluruh dari delegasi Jerman juga akan mengadakan kunjungan kehormatan kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI, Marsdya TNI Eris Herryanto, Kamis ( 24/11) di Kantor Kemhan, Jakarta.

Sumber: Kemhan

Jumat, 18 November 2011

AS Hibahkan Pesawat F-16

Presiden SBY dan Presiden AS Barack Obama saat menyampaikan keterangan pers bersama, seusai pertemuan bilateral, di BNDCC, Jumat (18/11) petang. (Foto: muchlis/presidensby.info)

18 November 2011, Nusa Dua, Bali (Presiden RI): Indonesia dan Amerika Serikat bersepakat meningkatkan kemitraan komprehensif di berbagai bidang. AS, antara lain, akan memberikan hibah pesawat F-16 dan dana millenium comprehensive partenrship senilai 600 juta dolar AS. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini dalam keterangan pers bersama Presiden AS Barack Obama, seusai pertemuan bilateral, di Bali Nusa Dua Convention Center, Jumat (18/11) pukul 18.45 WITA.

"Dalam pertemuan tadi, baik Indonesia maupun Amerika Serikat menyepakati peningkatakan kerja sama di bidang polhukam dengan berbagi jenis kegiatan, seperti dialog keamanan, kerja sama pelatihan militer, dan program hibah F-16," kata Presiden SBY.

Kedua negara juga banyak bersepakat dalam pembicaraan masalah ekonomi, seperti tentang investasi dan perdagangan. "Sementara itu, telah dilakukan satu dialog di bidang komersial. Ini juga penting karena menyangkut iklim investasi, energi bersih dan lingkungan, termasuk mengenai perubahan iklim," Presiden SBY menambahkan. Dalam pembicaraan ekonomi, dibahas pula persoalan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM), kewirausahaan, dan kerja sama industri.

Indonesia, lanjut SBY, berterima kasih dengan telah diluluskannya millenium comprehensive partnership senilai 600 juta dolar AS. "Bantuan ini terkait dengan pembangunan yang ramah lingkungan," ujar SBY. Di bidang kesejahteraan rakyat, dibahas kerja sama pendidikan dan kesehatan.

"Itulah capaian konkret kerja sama bilateral setelah kemitraan komprehensif kami luncurkan," SBY menjelaskan.

Presiden SBY juga menyampaikan kepada Presiden Obama tentang harapan Indonesia dalam kemitraan stategis yang telah dibangun sejak tahun lalu. Kerja sama Indonesia-AS adalah kerja sama sebagai sesama negara demokrasi yang menghormati HAM, sesama negara yang peduli permasalahan kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan Pasifik. "Yang sama-sama ingin membangun dan memperkuat ekonomi di kawasan dalam wujud investasi, perdagangan, dan kerja sama yang lain agar ekonomi di kawasan tumbuh makin kuat, namun perekonomian global yang makin berimbang," Kepala Negara menegaskan.

Menurut Presiden, partisipasi dan kontribusi AS dalam keseluruhan perkembangan ekonomi sangat penting. "Dan di situlah Indonesia sangat berharap untuk menjadi salah satu pilar dari kemitraan komprehensif Indonesia-Amerika Serikat di tahun-tahun mendatang," Presiden menandaskan.

Pertemuan bilateral RI-AS ini berlangsung sekitar 30 menit. Presiden SBY didampingi Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menlu Marty Natalegawa, Mendag Gita Wirjawan, dan Mensesneg Sudi Silalahi.

Sebelumnya, Presiden SBY bersama para pemimpin ASEAN mengadakan KTT ke-3 ASEAN-Amerika Serikat, di ruang lain di BNDCC. Presiden SBY yang memimpin pertemuan tersebut mengatakan, KTT ke-3 ini akan menjadi bagian penting untuk meningkatkan koordinasi kedua pihak.

"Tantangan yang dihadapi di Asia Pasifik sekarang ini memerlukan kerja sama yang baik dari semua pihak dan itu harus ditangani dengan cara yang efektif," kata Presiden saat membuka pertemuan. "Kerjasama antara ASEAN dan Amerika Serikat harus menjadi aspek penting dalam usaha bersama."

Sumber: Presiden RI

Rabu, 26 Oktober 2011

AS Menyerahkan IMSS Kepada Pemerintah RI


25 Oktober 2011, Surabaya (Dispenarmatim): Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang dalam hal ini diwakili Wakil Dubes AS untuk RI Ted Osius secara simbolis menyerahkan perangkat Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) kepada pemerintah Republik Indonesia yang diterima Dirjen Kuathan Kemenhan Laksamana Muda TNI Bambang Suwarto yang selanjutnya diserahkan kepada Wakasal Laksamana Madya TNI Marsetio di Koarmatim Ujung, Surabaya, Selasa (25/10. Kegiatan tersebut dihadiri pejabat dari Kemenhan RI, Mabes TNI, Mabesal, Pangamatim Laksda TNI Ade Supandi, SE dan para staf Dubes AS untuk RI.

Integrated Maritime Surveillance System (IMSS) merupakan suatu sistem yang terdiri dari tatanan hardware dan personel yang mengintegrasikan sistem komando dan pengendalian (Kodal) dengan memanfaatkan sarana radar dan long range camera pengamatan maritim yang dipasang di pantai/darat, kapal maupun pesawat udara.

Sejak tahun 2006, pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat secara aktif bekerja sama dalam perencanaan dan pemasangan sistim tersebut. Dengan selesainya proyek tersebut, IMSS dapat menjangkau 1.205 km garis pantai di Selat Malaka dan sekitar 1.285 km garis pantai di laut Sulawesi yang menjadikan sistem ini sebagai jaringan pengawasan meritim terintegrasi yang terbesar di dunia. Bantuan ini menjadikan Indonesia mampu mengembangkan kemampuannya mendeteksi, melacak dan memonitor kapal-kapal yang melintasi perairan teritorialnya dan perairan internasional.


Hal ini merupakan sebuah kemampuan yang penting dalam rangka memerangi aksi pembajakan, pencurian ikan, penyelundupan dan terorisme di dalam wilayah maritim Indonesia dan sekitar wilayah perbatasan Indonesia. IMSS tersebut telah mencapai keberhasilannya di Indonesia, pada bulan Januari 2011 komponen IMSS di Batam digunakan untuk mendukung pencarian dan penangkapan 9 bajak laut yang beroperasi di Selat Malaka antara Batam dan Singapura.

Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan unjuk kemampuan terhadap operasional seluruh perangkat sistem IMSS wilayah timur Indonesia yang telah terpasang. Dalam unjuk kemampuan ini berupa Operational Demonstration dengan melibatkan beberapa Coastal Surveillance System (CSS) yang ada di Posal, Shipboards Surveillance System (SSS) di KRI, Regional Command and Control Center (RCC) di Lantamal VIII Manado dan Fleet Command and Control Center (FCC) yang berada di Puskodal Koarmatim.

Sumber: Dispenarmatim

Minggu, 23 Oktober 2011

Inggris latih ZEE untuk Asia Tenggara


24 Oktober 2011, Jakarta, 24/10 (ANTARA): Inggris mengadakan pelatihan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Jakarta untuk beberapa negara di kawasan Asia Tenggara ditambah Papua Nugini dengan tujuan membantu penyelesaian masalah maritim di wilayah tersebut.

Pelatihan yang akan berlangsung 24-28 Oktober 2011 ini dibuka Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementrian Pertahanan, Mayor Jenderal TNI Suwarno, di Jakarta, Senin.

Konflik perbatasan, pencurian ikan, dan pembajakan kapal merupakan isu utama yang akan dibahas karena kawasan Asia Tenggara beberapa kali mengalami kejadian tersebut.

Dalam masalah batas laut, potensi konflik tersebut bisa dilihat dari klaim bersama antara Vietnam, Brunei, Malaysia, Filipina, dan Taiwan atas Kepulauan Spratly di Laut China Selatan.

Sedangkan pencurian ikan juga sering terjadi di wilayah ini, terakhir sembilan kapal pencuri ikan Indonesia dari Vietnam tertangkap perairan Natuna, 29 September lalu.

Delegasi Indonesia yang menghadiri pelatihan ini berjumlah 32, Malaysia dan Singapura mengirim satu wakil dan sisanya masing-masing dua.

Instruktur pelatihan adalah Mayor Ted Bath yang sudah berpengalaman mengadakan pelatihan sejenis sebanyak 23 kali, delapan kali di Inggris dan 15 di luar Inggris. Di Jakarta sendiri, pelatihan ini sudah dilakukan lima kali.

Unit Pelatihan Internasional dan Persemakmuran (International and Commonwealth Training Unit/ICTU) yang merupakan bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris akan menjadi pelaksana pelatihan tersebut.

"Indonesia dan negara-negara tetangga sering mengalami persoalan berkaitan dengan batas teritorial laut, pelatihan ini diharapkan mampu menyelesaikan beberapa persoalan tersebut," kata Suwarno dalam sambutan sebelum membuka pelatihan.

Persoalan perbatasan laut itu, katanya, disebabkan sulit untuk mengimplementasikan hukum laut internasional dan ZEE yang sudah diratifikasi sejak 1992.

"Kehadiran peserta dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, negara Timor Timur, dan Papua Nugini akan membantu penyelesaian masalah perbatasan, pembajakan kapal, dan terorisme di wilayah ini," kata dia.

Sementara Atase Pertahanan Kedutaan Inggris untuk Indonesia, Kolonel Philip Thorpe, melalui rilis media mengatakan, kesulitan itu implementasi hukum laut internasional itu disebabkan keragaman bahasa yang digunakan dalam hukum itu. Alhasil, interpretasinya berbeda-beda.

"Perbedaan interpretasi dapat memperburuk stabilitas regional itu. Pelatihan ZEE yang dihadiri perwakilan dari tujuh negara tetangga akan memungkinkan mereka berbagi pesan yang sama sehingga sikap saling menghormati dan memahami dapat terbangun," kata Thorpe.

Sumber: ANTARA News

Presiden-Menhan AS Bahas Peningkatan Hubungan Bilateral

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro (3 kanan) memimpin delegasi Indonesia saat mengadakan pertemuan bilateral dengan delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat, Leon E Panetta (3 kiri) di sela Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ADMM) di Nusa Dua, Bali, Minggu (23/10). Pertemuan tiga hari itu diawali dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi (SOM) dan menteri dari 10 negara ASEAN untuk membahas kerjasama negara anggota serta tantangan ke depan. (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/ed/nz/11)

24 Oktober 2011, Nusa Dua (ANTARA News): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap hubungan bilateral Indonesia dan Amerika Serikat dapat terus dipertahankan dan meningkat.

Hal itu dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono saat menerima Menteri Pertahanan AS Leon Panetta di Nusa Dua, Bali.

"Saya ucapkan terima kasih atas kerjasama bilateral (kedua negara)," kata Presiden di awal pertemuan tertutup yang berlangsung lebih kurang 45 menit itu.

Sementara itu Panetta memuji keindahan Pulau Dewata dan menyampaikan apresiasinya atas keramahan budaya setempat.

Menko Polhukam Djoko Suyanto seusai pertemuan menjelaskan bahwa pertemuan itu membahas peningkatan kerjasama kedua negara.

Djoko mengatakan bahwa Panetta selaku menhan baru AS menyatakan keinginannya untuk tetap menjalin kerja sama dengan negara-negara ASEAN.

"Tetap bahwa Indonesia dan ASEAN," ujarnya seraya mengatakan bahwa Indonesia dan AS memiliki sejarah panjang kerjasama bilateral antara lain di bidang maritim dan kontra terorisme.

Turut mendampingi Presiden dalam pertemuan itu adalah Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Duta Besar RI untuk AS Dino Patti Djalal.

Pada Minggu sore (23/10), Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panetta telah melakukan pertemuan di sela-sela ASEAN Defence Ministerial Meeting untuk membahas kerja sama bidang militer.

Menurut Purnomo dalam pertemuan itu pemerintah Amerika Serikat menyatakan komitmennya untuk menyediakan alat utama sistem senjata (Alutsista) bagi Indonesia.

Namun ia mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui jenis alutsista yang akan diberikan kepada Indonesia.

Selain itu, kata Purnomo, pemerintah Amerika Serikat juga mendukung pembentukan ASEAN Security Community yang akan diwujudkan pada 2015.

"Indonesia juga berencana mengembangkan keamanan maritim karena dua per tiga wilayah Indoneisa adalah lautan," katanya.

Purnomo mengatakan, saat ini Amerika juga sudah membantu dengan pemasangan sistem radar di Selat Malaka, dan akan dikembangkan di selat Sulawesi.

Sementara itu Kepala Negara melakukan kunjungan kerja selama empat hari di Bali, 21-24 Oktober, guna antara lain membuka ASEAN Fair.

Sumber: ANTARA News

Indonesia-Amerika Serikat Bahas Kerja Sama Militer

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro (3 kiri) menyambut kedatangan Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat, Leon E Panetta (3 kanan) saat pertemuan bilateral yaitu rangkaian Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ADMM) di Nusa Dua, Bali, Minggu (23/10). Pertemuan tiga hari itu diawali dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi (SOM) dan menteri dari 10 negara ASEAN untuk membahas kerjasama negara anggota serta tantangan ke depan. (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/ed/nz/11)

23 Oktober 2011, Nusa Dua, Bali (ANTARA News): Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, dan koleganya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, melakukan pertemuan di sela Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN di Nusa Dua, Bali, Minggu, untuk membahas kerja sama bidang militer.

"Pemerintah Amerika sangat mendukung Indonesia. Kami berdua menyatakan apresiasi atas hubungan bilateral yang meningkat dan akan kami pertahankan," kata Menhan Purnomo dalam koferensi pers.

Purnomo menjelaskan, pemerintah Amerika Serikat menyatakan komitmennya untuk menyediakan berbagai arsenal militer bagi Indonesia.

"Contoh konkret kerja sama ini seperti pesawat F-16 dan Herkules yang tidak hanya dipakai untuk operasi militer, lalu ada beberapa negara yang akan menghibahkan persenjataannya kepada kita dan mereka itu buatan Amerika," jelasnya.

Purnomo menerangkan, pihaknya belum mengetahui jenis dan tipe persenjataan yang akan diberikan kepada Indonesia.

Selain itu, kata Purnomo, pemerintah Amerika Serikat juga mendukung pembentukan Komunitas Keamanan ASEAN yang akan diwujudkan pada 2015.

"Indonesia juga berencana mengembangkan keamanan maritim karena dua pertiga wilayah Indoneisa adalah lautan," katanya.

Purnomo mengatakan, saat ini Amerika juga sudah membantu dengan pemasangan sistem radar di Selat Malaka, dan akan dikembangkan di selat Sulawesi.

"Amerika juga sudah membantu sistem radar sehingga aksi perompakan menurun drastis. Apalagi ada patroli bersama Malaysia, Singapura, dan Indonesia," imbuhnya.

Terkait terorisme, Purnomo mengatakan, terorisme di Indonesia tidak mempengaruhi rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, November mendatang.

Sumber: ANTARA News

Sabtu, 22 Oktober 2011

Menteri Pertahanan AS Kunjungi Indonesia dalam Lawatan ke Asia


22 Oktober 2011, London (BBC): Di Indonesia, menurut seorang pejabat Departemen Pertahanan AS, Panetta akan membicarakan masalah kerjasama militer serta proses lanjutan reformasi di tubuh TNI, dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Di Indonesia, menurut seorang pejabat Departemen Pertahanan AS, Panetta akan membicarakan masalah kerjasama militer serta proses lanjutan reformasi di tubuh TNI, dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Setelah dari Indonesia, Panetta dijadwalkan berkunjung ke Jepang dan Korea Selatan, demikian Kantor Berita Reuters melaporkan.
Diarahkan ke Asia

Lawatan Panetta ke Asia ini, menurut para analis, menindaklanjuti kebijakan luar negeri AS yang akan diarahkan ke Asia, menyusul semakin menguatnya peran ekonomi dan militer Cina di kawasan itu.

Dalam perjalanan menuju Indonesia, mantan Direktur CIA ini mengatakan kepada wartawan, bahwa kunjungannya ini untuk menekankan bahwa AS menginginkan hubungan baik dengan Cina.

"Hubungan seperti itu penting, agar kami dapat bekerjasama dengan baik," kata Panetta.

Cina sempat bereaksi keras atas kebijakan AS yang meremajakan skuadron jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Taiwan, bulan lalu.

Sumber: BBC

Sabtu, 15 Oktober 2011

Indonesia Jajaki Kerjasama Pertahanan dengan Polandia dan Swedia


14 Oktober 2011, Jakarta, DMC – Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, Jumat (14/10) menerima kunjungan Duta Besar Polandia untuk Indonesia Grzegorz Wisniewski di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta. Adapun maksud dari kunjungan Dubes Polandia ini adalah membahas Ratifikasi kembali perjanjian kerjasama bidang pertahanan antara kedua negara yang sempat tertunda hampir selama lima tahun.

Menurut Dubes Polandia, Dokumen perjanjian kerjasama ini sangatlah penting untuk direalisasikan dan ditandatangani di masa yang akan datang. Ditambahkan Dubes Polandia, mengingat dokumen ini bukan hanya merangkum kerjasama industri pertahanan saja, melainkan kerjasama pertahanan lainnya secara umum.

“Dari pihak kami sangat mengharapkan kerjasama pertahanan yang riil bukan hanya dalam kerjasama industri pertahanan antara militer dengan militer seperti teknologi alutsista atau pasukan khusus, karena saat ini Angkatan Bersenjata Polandia juga sedang mengembangkan kekuatan pada pasukan khusus.” ungkap Dubes Polandia kepada Menhan.

Dubes Polandia menyampaikan penawaran dalam rangka untuk mempublikasikan program kebijakan militer Polandia di Indonesia, Pemerintah Polandia mengundang salah satu personil jurnalis militer dari Indonesia pada program kunjungan ke Akademi Militer ataupun ke Satuan Militer yang ada di Polandia.

Selain itu Dubes Polandia juga mengundang kedatangan Menhan RI, Purnomo Yusgiantoro bersama pejabat Kemhan dan TNI lainnya pada pameran tahunan industri pertahanan militer Polandia yang akan diselenggarakan bulan September tahun depan.

Pada kesempatan pertemuan itu Dubes Grzegorz Wisniewski menyampaikan bahwa baru-baru ini Pemerintah Polandia telah membangun Kantor Atase khusus Bidang Pertahanan di Jakarta. Dubes Poladia mengharapkan Pemerintah Indonesia juga bisa membangun Kantor Atase Pertahanan di Negara Polandia.

Sementara itu Menhan RI memberikan respon yang baik terhadap peluang kerjasama pertahanan riil kedua negara tersebut. Terlebih lagi untuk bidang industri pertahanan, Menhan mengatakan Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan menerima kerjasama dengan proses Produksi Bersama (Joint Production) dan Transfer Technology.

Menhan Menerima Kunjungan Dubes Swedia


Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro didampingi Sekjen Kemhan, Marsdya TNI Eris Herryanto menerima Dubes Swedia untuk Indonesia Mrs Ewa Polano bersama Delegasi Perusahaan Kedirgantaraan dan Pertahanan Swedia, (SAAB), Kamis (13/10) di Kantor Kemhan, Jakarta.

Maksud kunjungan Duta Besar Swedia ini adalah membahas peluang kerjasama di bidang pertahanan kedua negara khususnya Alutsista jenis Pesawat Tempur. Turut juga mendampingi Menhan saat menerima Dubes Swedia, Direktur Teknologi dan Industri Ditjen Pothan Kemhan Brigjen TNI Agus Suyarso dan Kapuskom Publik Brigjen TNI Hartind Asrin.

Sumber: DMC

Senin, 10 Oktober 2011

Slovakia Tertarik Kerja Sama Pertahanan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) dan Presiden Republik Slovakia Ivan Gasparovic memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (10/10). Kunjungan Presiden Republik Slovakia itu merupakan kunjungan kenegaraan pertama ke Indonesia, untuk melakukan pertemuan bilateral guna meningkatkan hubungan kerjasama kedua negara. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/Spt/11)

10 Oktober 2011, Jakarta (Jurnas): Presiden Slovakia Ivan Gasparovic menyatakan keinginannya untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia khususnya di bidang pertahanan. Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat jumpa pers bersama Presiden Slovakia di Istana Merdeka, Senin (10/1) usai keduanya melaksanakan pertemuan bilateral.

Presiden SBY juga menyatakan menyambut baik keinginan Presiden Slovakia untuk kerja sama di bidang pertahanan, apakah pendidikan, pelatihan, industri pertahanan dan berbagi pengalaman soal pengiriman pasukan misi perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa. “Karena saya tahu, Slovakia penyumbang di pasukan perdamaian di banyak negara, demikian juga Indonesia,” kata Presiden.

Presiden juga mengatakan dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Slovakia, juga membahas isu internasional antara lain mendiskusikan perkembangan ekonomi global sekarang ini, situasi di sebagian negara di Uni Eropa (UE), Amerika Serikat ataupun di belahan dunia yang lain. “Dengan harapan agar segera bisa diatasi permasalahan ekonomi sehingga tidak menimbulkan dampak yang luas pada perekonomian global,” katanya.

Presiden juga mengungkapkan pentingnya kerja sama UE dan Indonesia yang tentu membawa manfaat bagi kedua belah pihak. Selain itu, Presiden juga menyampaikan harapan agar situasi di Timur Tengah dan Afrika Utara bisa dikelola dengan baik.

Menurutnya, peperangan dan kekerasan dihentikkan, warga sipil dilindungi. Kemudian proses demokrasi diharapkan berjalan secara damai dan semuanya harus didasarkan pada kehendak rakyat negara-negara setempat atau negara-negara di kawasan itu.

Sumber: Jurnas

Jumat, 07 Oktober 2011

Kasal Terima Panglima Armada-7 Amerika

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. didampingi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Marsetio M.M., Asintel Panglima TNI Mayjen TNI Tisna Komara dan Wakapuspen TNI Brigjen TNI Avianto Saptono menerima kunjungan kehormatan Panglima Armada-7 USA, Vice Admiral Scott Swift di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Jumat (7/10). Tujuan kunjungan tersebut adalah perkenalan Vice Admiral Scott Swift sebagai Panglima Armada-7 USA sekaligus silahturahmi kepada Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. (Foto: Puspen TNI)

7 Oktober 2011, Jakarta (Dispenal): Panglima Armada-7 Amerika Serikat Vice Admiral (Laksamana Madya) Scott Swift mengadakan kunjungan kehormatan kepada Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno di Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Cilangkap Jakarta Timur, Jumat (7/10).

Kunjungan orang pertama di Armada Ketujuh Amerika Serikat yang didampingi Atase Laut USA di Indonesia Kolonel Adrian Jansen ini dalam rangka memperkenalkan diri sehubungan Laksamana Madya Scott Swift baru saja dilantik menjadi Panglima Armada Ketujuh AS pada 7 September 2011 lalu.

Menurut Panglima Armada Ketujuh Amerika Serikat Laksamana Madya Scott Swift negaranya memandang bahwa Indonesia sebagai negara penting di kawasan Asia Pasifik. Karena kepentingan inilah Indonesia dijadikan negara pertama yang ia kunjungi dalam rangka perkenalan dirinya selaku pejabat baru.

Selain perkenalan, dibicarakan pula masalah keangkatanlautan kedua negara serta permasalahan maritim lainnya. Turut mendampingi Kasal pada penerimaan tersebut Wakasal Laksdya TNI Marsetio, M.M. dan Waasrena Kasal Laksma TNI Desi Albert Mamahit, M.Sc. Tampak Kasal Laksamana TNI Soeparno dan tamunya saat melaksanakan salam komando.

Sumber: Dispenal

Kamis, 06 Oktober 2011

Dubes dan Duta Pertahanan Korsel Kunjungi Markas Marinir

Aktor dan Model Korea selatan Hyun Bin (kiri) bersama Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin (tengah) ketika mengunjungi Brigade 2 Marinir di Cilandak, Jakarta, Kamis (6/10). Hyun Bin merupakan Duta Pertahanan Korsel untuk RI itu saat ini masih menjalani wajib militer sebagai anggota marinir Korsel. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/11)

6 Oktober 2011, Jakarta (Jurnas.com): Duta Besar Korea Selatan, Kim Young-Sun mengunjungi Markas Komando Marinir di Cilandak, Rabu (6/10). Menyambut kedatangan Kim, Marinir menyuguhkan demonstrasi kemampuan tempur serta alat utama sistem persenjataan (Alutsista) yang dimiliki.

Pasukan anti teror Angkatan Laut, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) menampilkan beladiri marinir serta kelihaian snipernya. Selain itu, dilakukan juga simulasi operasi pembebasan sandera oleh teroris. Operasi pembebasan ini mengerahkan pasukan dari laut, udara dan diperlihatkan kemampuan memanjat tembok.

Marinir juga menunjukkan kemampuan kendaraan tempur LVT-7 yang merupakan pemberian Korea Selatan. LVT-7 merupakan salah satu kendaraan tempur (ranpur) Marinir yang mempunyai kemampuan berjalan di air dan juga membelah track off road. LVT-7 tersebut berjalan menelusuri sungai dan membelah jalanan off road yang berada di komplek Mako Marinir.

Dalam kunjungan tersebut, Kim Young- Sun didampingi duta militer Korea Selatan sekaligus model dan aktor Korea Hyung Bin.


Aktor dan Model Korea selatan Hyun Bin bersama Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin (kanan) mencoba tank amphibi BMP-3F ketika mengunjungi Brigade 2 Marinir di Cilandak, Jakarta, Kamis (6/10).(Foto: ANTARA/Saptono/Spt/11)

Aktor dan Model Korea selatan Hyun Bin (kiri) didampingi Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin (kanan) mencoba senjata serbu M16 ketika. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/11)

Aktor dan Model Korea selatan Hyun Bin (kiri) bersama Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin (kanan) mencoba mencoba makanan masakan prajurit marinir. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/11)

Sumber: Jurnas