Tampilkan postingan dengan label Kopassus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopassus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2011

Kopassus Latihan Perang di Hutan Sekadau

Dua prajurit Kopassus menggiring pelaku separatis, saat simulasi penanganan anti separatis di hutan Desa Gonis Tekam, Kabupaten Sekadau, Kalbar, Kamis (15/12). Simulasi penanganan anti separatis yang digelar oleh Kopassus untuk memantapkan kemampuan tempur prajurit komando di daerah rawa dan hutan Kalbar tersebut, merupakan bentuk pengamanan terhadap kedaulatan NKRI dari gerakan separatis. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/mes/11)

15 Desember 2011, Sekadau (Pontianak Post): Setelah melakukan latihan perang di kawasan hutan Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi dan di Kabupaten Sintang. Komando Pasukan Khusus (Kopassus) akan melanjutkan kegiatan tersebut di Kecamatan Sekadau, Dusun Gonis Tekam, hari ini (15/12).

Kegiatan yang diikuti oleh 262 prajurit ini, akan melakukan giat yang senada pada hari sebelumnya. Dengan mengusung tema Satuan Tugas Pasukan Khusus Parakomando untuk operasi wilayah di seluruh Pulau Kalimantan. Wadanjen Kopassus Brigjen TNI, Doni Munardo menuturkan, latihan ini dalam rangka Operasi Pemulihan Keamanan. Bertujuan untuk meningkatkan dan menguji kemampuan serta ketersediaan operasional satuan jajaran Kopassus. Terutama dalam menghadapi tantangan tugas di masa mendatang.

Dia mengatakan, Kopassus harus terus memelihara kemampuan yang ada. Melalui pembinaan latihan secara bertahap, berharap akan meningkatkan latihan sebagai kebutuhan Kopassus itu sendiri. “Sebagai prajurit harus siap untuk mengemban tugas sesuai dengan fungsi,” cetusnya. Setelah melakukan latihan perang, Prajurit Kopassus juga akan diperintahkan untuk melakukan pengecekkan di seluruh patok batas yang ada di Kalimantan Barat.

Kemudian dibuntuti dengan ekspedisi. “Untuk kedepan, kami akan melanjutkan bhakti sosial di Camar Bulan, Kabupaten Sambas. Hal tersebut juga ditujukan untuk menjaga keamanan daerah sekitar. Begitu juga terhadap masyarakat sekitar. Kita akan melakukan pendekatan, demi mencapai persatuan dan kesatuan sebagai Warga Negara Indonesia,” terang Doni.


Sejumlah prajurit Kopassus meneriakkan yel-yel saat latihan simulasi penanganan anti separatis di hutan Desa Gonis Tekam, Kabupaten Sekadau, Kalbar, Kamis (15/12). (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/mes/11)

Sejumlah prajurit Kopassus menggiring pelaku separatis, saat simulasi penanganan anti separatis. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/mes/11)

Perubahan lingkungan strategis pada lingkup global, regional dan nasional, senantiasa bergerak cepat. Dan diikuti segala dampak negatif yang dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kegiatan ini, suatu bentuk latihan dengan melihat tren yang berkembang secara global di masa sekarang. Begitu juga terhadap operasi khusus perang yang bersifat Asymetric Warfare.Dinamika ini. Kami berusaha untuk mengimbangi,” tandasnya.

Sumber: Pontianak Post

Selasa, 13 Desember 2011

Kopassus Berlatih Sambil Berbhakti pada Masyarakat Perbatasan

Komandan Grup 2 Kopassus, Kolonel Inf Teguh Arief Indratmoko (kanan), berbincang dengan warga yang mengikuti pengobatan gratis di Kabupaten Sekadau, Kalbar, Kamis (15/12). Pengobatan gratis yang digelar oleh Kopassus dan merupakan rangkaian dari kegiatan Tribuana Cakti ke-17 di wilayah Kalbar tersebut, bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada masyarakat Kabupaten Sekadau. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/mes/11)

14 Desember 2011, Jakarta (ANTARA News): Ibarat kata sambil menyelam minum air atau mandi basah sekalian. Komando Pasukan Khusus TNI-AD juga begitu dalam program latihan terpadu mereka di satu desa perbatasan Indonesia-Malaysia di Provinsi Kalimantan Barat.

Adalah Dusun Telian, Desa Tingting Sligi, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang kali ini menjadi lokasi bhakti sosial pasukan Baret Merah itu. Tentu bukan cuma personel tentara saja yang terlibat, namun gabungan PMI, dinas kesehatan setempat, relawan, dan lain-lain.

"Baru kali ini, menurut penuturan masyarakat setempat, dilaksanakan kegiatan serupa. Jika mereka sakit, harus pergi ke Pos Pengamanan Perbatasan atau malah ke Lubuk Hantu di wilayah Sabah, Malaysia. Kami sangat bangga bisa menyumbang sesuatu pada masyarakat di perbatasan negara kita ini," kata Kepala Dinas Penerangan Komando Pasukan Khusus TNI-AD, Letnan Kolonel Infantri T Sobri, di Jakarta, Rabu.

Kegiatan itu sendiri, katanya, berlangsung dua hari lalu. Ratusan masyarakat setempat sangat antusias mendaftarkan diri atak anak-anaknya. Seorang paramedik relawan yang turut, Siwo, menyatakan, "Kebanyakan mereka menderita sakit terkait pencernaan, di antaranya maag atau penyakit bagian gigi dan mulut. Kami bersama personel tentara bahu-membahu menyuluh kesehatan dan gizi pada mereka."

Secara keseluruhan, jumlah pasien masyarakat setempat yang didominasi suku Daya Iban itu sebanyak 1.700 orang. Mereka juga menjadi subyek penerima bantuan sosial berupa bahan-bahan pangan dan kesehatan lain.

Karena ini kerja bersama, maka seluruh unsur di sana dilibatkan. Tim gabungan terdiri dari Kopassus (15 orang), Kodim Kapuas Hulu (20), personel Batalion Infantri 644/WS (24), Batalion Infantri 643/WNS (empat), Kesehatan Korem 121/Alam Bhannawannawai (14), Dinas Kesehatan Kapuas Hulu (tiga), dan PMI Pusat (dua).

Seorang tokoh masyarakat di desa itu, Tumenggung Yohannes Uban, "Kami sangat kesulitan jika ada masyarakat yang sakit. Jika sakit kami harus pergi jauh sekali, bahkan kalau perlu sampai ke Lubuk Hantu karena di sana lebih lengkap."

Karena ini program latihan yang penting bagi Komando Pasukan Khusus TNI-AD, maka Wakil Komandan Jenderal Kopassus, Brigadir Jenderal TNI Doni Munardo, memimpin langsung kedua aktivitas ini. Upacara adat untuk menghormati rombongan dari Jakarta digelar masyarakat setempat dan Munardo mendapat penghormatan tersendiri di halaman satu rumah betang (rumah besar) mereka.

Latihan terpadu mereka sendiri dilaksanakan di beberapa lokasi dan berujung di Singkawang. Bumi Kalimantan bukan tempat asing bagi Komando Pasukan Khusus TNI-AD, karena saat konfrontasi dengan Malaysia pada awal dasawarsa '60-an, mereka sudah mencicipi keganasan hutan belantara perawan pulau itu.

Saat itu, nama pasukan Baret Merah itu adalah Resimen Para Komando TNI-AD, yang ditugaskan merekrut dan menggalang kekuatan dari masyarakat setempat jauh di belakang garis pertahanan Malaysia. Bahkan, beberapa segmen pertempuran dalam skala terbatas dengan pasukan khusus Inggris, Special Air Forces, juga sempat mereka alami secara langsung.

Tidak kurang itu terjadi pada Mayor Infantri (saat itu) Leonardus Benyamin Moerdani yang lebih dikenal dengan nama LB Moerdani, di satu sungai di wilayah perbatasan Putussibau-Sabah. Puluhan tahun kemudian, personel-personel SAS yang nyaris kontak senjata terbuka dengan Moerdani bertemu dengan jenderal legendaris di dunia pasukan khusus Indonesia itu.

"Wakil Komandan Jenderal menegaskan, medan latihan di Kalimantan kali ini sangat ideal. Terutama untuk melatih para prajurit khusus muda agar mereka mengenal lebih jauh medan rawa, sungai dan hutan yang sesungguhnya," kata Sobri.

Sumber: ANTARA News