Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2012

Kapal Cepat TNI AL akan Dipersenjatai Peluru Kendali

Peluru kendali C-705. (Foto: wuxinghongqi)

21 Februari 2012, Jakarta: Kapal Cepat Rudal (KCR) TNI Angkatan Laut akan dipersenjatai dengan peluru kendali C-705 yang akan diproduksi bersama Pemerintah Indonesia dan Cina.

Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Soemartono mengatakan, saat ini kedua pemerintah tengah menjajaki produksi bersama peluru kendali tersebut.

"Kami sudah melakukan uji coba terhadap rudal C-705 sebanyak dua kali, dan hasilnya sangat bagus untuk melengkapi persenjataan KCR-KCR TNI Angkatan Laut," ungkapnya, Senin (20/2).

Soemartono mengemukakan sebelumnya TNI Angkatan Laut pernah menggunakan rudal buatan Cina C-802 untuk mempersenjatai beberapa kapal kelas Van Speijk dan kapal patroli cepat.

"Namun, jarak jangkaunya masih kurang dibandingkan C-705 yang bisa mencapai 100 meter lebih, dengan tingkat akurasi yang baik," ujarnya menambahkan.

Karena itu, kedepan untuk kapal-kapal cepat berpeluru kendali TNI Angkatan Laut akan menggunakan C-705, kata Soemartono menegaskan.

TNI Angkatan Laut kini tengah memiliki dua unit KCR yakni KRI Clurit dan KRI Kujang. "Kami telah memesan 40 unit KCR untuk ditempatkan di beberapa wilayah laut Indonesia yang rawan kejahatan laut," ungkapnya.

Indonesia-China Mantapkan Alih Teknologi Peluru Kendali

Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta Senin mengatakan, proses alih teknologi menjadi syarat utama dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata dari mancanegara, termasuk peluru kendali dari China.

"Selain itu, kita juga telah menjajaki kerja sama produksi bersama rudal tersebut sebagai produk nasional," kata Brigjen Hartind Asrin menambahkan.

Rangkaian proses alih teknologi itu antara lain ditandai dengan kunjungan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro ke China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705 yang akan dibeli TNI Angkatan Laut disertai proses alih teknologi.

Sebelumnya, kedua pemerintah telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan kedua negara. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa.

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

Kedua, alih teknologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, upgrade dan pelatihan.

Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing.

Selama di China, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan China, Menhan Purnomo Yusgiantoro juga berencana melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang.

Tak hanya itu, Menhan juga berencana meninjau perusahaan roket dan peluru kendali China ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co.Ltd) .

Saat ini, Kementerian Pertahanan sedang menyusun rencana terkait dengan proses alih teknologi peluru kendali C-705.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam kunjungan kerjanya ke Cina awal pekan ini juga mengunjungi Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705 yang akan dibeli TNI Angkatan Laut disertai proses alih teknologi.

Selama di Cina, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan Cina dan Wakil Perdana Menteri Cina Li Keqiang.

Tak hanya itu, Purnomo juga meninjau perusahaan roket dan peluru kendali Cina ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co.Ltd).

Sumber: Republika/Antara News

Kamis, 16 Februari 2012

Menhan Resmikan Kapal Cepat Rudal Kedua Produksi Dalam Negeri


16 Februari 2012, Batam: Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal (KCR)-40 kedua produksi dalam negeri, Kamis (16/2) di Dermaga Batu Ampar, Batam. Kapal perang ini diproduksi oleh perusahaan galangan kapal swasta nasional di Batam yaitu PT. Palindo Marine Shipyard. KCR-40 pesanan kedua dari TNI AL ini diberi nama KRI Kujang dengan nomor lambung 642.

Hadir pada acara tersebut Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kasal Laksamana TNI Soeparno, Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Harryanto, Dirut PT. Palindo Marine Shipyard Harmanto dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan, Mabes TNI dan Mabes TNI AL. Hadir pula Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddik dan sejumlah Anggota Komisi I DPR RI serta Gubernur Kepulauan Riau Rusli Zainal.

Peresmian ditandai dengan penekanan tombol sirine dan dibukanya selubung papan nama KRI Kujang–642 oleh Menhan. Bersamaan dengan acara peresmian ini, Menhan juga melantik Komandan KRI Kujang–642 yang dijabat oleh Mayor Laut (P) Lugi Santosa.

Sebelum peresmian, dilaksanakan penandatanganan dan penyerahan Protocol of Delivery dari pihak PT. Palindo Marine Shipyard yang diwakili Dirut PT. Palindo Marine Shipyard kepada Kemhan yang diwakili Kabaranahan Kemhan. Selanjutnya secara berurutan diserahkan kepada Aslog Panglima TNI, Aslog Kasal dan terakhir diterima oleh Pangarmabar. Penandatanganan dan penyerahan Protocol of Delivery tersebut disaksikan Menhan, Panglima TNI, Ketua Komisi I DPR RI dan Kasal.

Dengan penambahan satu buah KCR-40 ini, diharapkan akan menambah kekuatan Armada TNI AL dalam rangka mengemban tugas – tugasnya menjaga perairan laut Indonesia dan juga memberikan efek deterrence bagi pertahanan negara. KCR–40 ini akan ditempatkan di wilayah perairan laut yang menjadi tugas dan tanggung jawab dari Komando Armada Barat (Koarmabar).

Secara keseluruhan, PT. Palindo Marine Shipyard mendapatkan pesanan dari TNI AL membuat KCR-40 sebanyak empat unit dengan nilai kontrak kurang lebih untuk satu unit KCR-40 sebesar Rp. 75 Milyar. Pengadaan KCR–40 ini menggunakan sumber pembiayaan Pinjaman Dalam Negeri.

KCR-40 yang pertama telah diresmikan oleh Menhan pada bulan April 2011 dan sudah memperkuat Armada Perang TNI AL dijajaran Armabar dengan nama KRI Clurit-641. Saat ini, PT. Palindo Marine Shipyard juga sudah mulai menyiapkan KCR-40 ketiga dan direncanakan selesai pada bulan November 2012. Sedangkan KCR-40 keempat diperkirakan akan selesai pada tahun 2013.

Menhan dalam sambutannya mengatakan, peresmian KRI Kujang-642 sebagai salah satu langkah bagi kebangkitan industri dalam negeri guna menuju kemandirian. Perhatian pemerintah saat ini sangat besar dalam mengupayakan pemberdayaan industri pertahanan nasional dalam mendukung pemenuhan Alutsista TNI.

Menhan mengungkapkan, program pengadaan type Kapal Cepat Rudal (KCR) seperti ini sampai dengan tahun 2014 nanti direncanakan sebanyak 14 kapal dengan ukuran antara 40 meter sampai 60 meter.

Pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya nyata untuk mengembangkan industri pertahanan dalam negeri dengan membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang bertujuan mewujudkan pemberdayaan industri pertahanan guna menuju kemandirian. “Pada saat ini juga sedang diproses penyelesaian RUU Industri Pertahanan dan Keamanan sebagai landasan hukum bagi keberpihakan kita terhadap industri dalam negeri”, tambah Menhan.

Lebih lanjut Menhan atas nama Pemerintah menyampaikan penghargaan kepada DPR-RI khususnya Komisi I atas dukungannya selama ini kepada Kemhan dan TNI dalam mewujudkan rencana pembangunan kekuatan TNI. Ucapan selamat juga disampaikan kepada Direktur dan seluruh karyawan PT. Palindo Marine Shipyard yang telah menyelesaikan pembangunan Kapal Cepat Rudal (KCR) tIpe 40 kedua yang dibiayai dari anggaran pinjaman dalam negeri TA.2010.

“Saya berharap, PT. Palindo Marine Shipyard tidak cepat berpuas diri, namun terus mengembangkan segala kemampuan yang ada guna mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal”, pesan Menhan.

Sementara itu Dirut PT.Palindo Marine Shipyard mengatakan, pihaknya merasa bangga mendapat kehormatan untuk membangun kapal ini dan mempersembahkannya kepada negara sebagai tanda peran anak bangsa dalam membangun negara khususnya dalam bidang pertahanan di laut.

Dirut PT.Palindo Marine Shipyard berharap, kehadiran kapal ini akan membuat NKRI semakin kuat dan disegani oleh negara lain serta berharap industri pertahanan dalam negeri semakin berkembang dalam semangat kemandiriian demi kejayaan ibu pertiwi.

KCR–40 Produksi Palindo Marine Shipyard


KCR-40 sepenuhnya dikerjakan oleh putra-putri bangsa dan sebagian besar material kapal perang tersebut diproduksi di dalam negeri. Putra-putri terbaik bangsa yang terlibat dalam proses pekerjaan KCR ini berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang bekerja di Batam.

Kapal dengan teknologi tinggi itu memiliki spesifikasi panjang 40 meter, lebar 8 meter, tinggi 3,4 meter dan sistem propulasi fixed propeller 5 daun. KCR-40 mampu berlayar dengan kecepatan 30 knot.

KCR-40 terbuat dari baja khusus bernama High Tensile Steel pada bagian hulunya (lambung). Baja High Tensils Steel ini merupakan produk dalam negeri yang diperoleh dari PT. Krakatau Steel. Sementara untuk bagian atasnya, kapal ini menggunakan Aluminium Alloy sehingga memiliki stabilitas dan kecepatan yang tinggi jika berlayar.

Kapal yang sepenuhnya di buat di PT. Palindo Marine Shipyard tersebut dilengkapi sistem persenjataan modern (Sewaco/Sensor Weapon Control), diantaranya meriam kaliber 30 mm enam laras sebagai Close in Weapon System (CIWS) atau sistem pertempuran jarak dekat dan Rudal C-705 buatan Cina .

Sumber: DMC

Selasa, 14 Februari 2012

Delapan Kapal Perang Gelar Latihan Gladi Tugas Tempur di Natuna

KRI Banda Aceh-593. (Foto: Kemhan)

14 Februari 2012, Jakarta: Delapan unsur Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) diantaranya jenis Perusak Kawal tipe Parchim dan jenis Angkut Tank Frosch jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) diberangkatkan dalam rangka manuver lapangan pada Latihan Gladi Tugas Tempur (Glagaspur) Tingkat III Terpadu tahun 2012 menuju perairan Natuna dari dermaga Pondok Dayung Jakarta Utara, Selasa (14/2).

Usai kegiatan embarkasi personel, kendaraan tempur dan sejumlah pasukan Marinir yang terlibat dalam Latihan Gladi Tugas Tempur Tigkat III Terpadu Koarmabar tahun 2012 tersebut, unsur-unsur KRI akan melaksanakan beberapa manuver taktis mulai keluar alur pelabuhan dan bergerak menuju perairan Laut Jawa akan dilaksanakan pentahapan latihan secara berlanjut.

Latihan Glasgaspur Tingkat III Terpadu dilaksanakan dengan melibatkan sejumlah kapal perang dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat meliputi Satuan Kapal Eskorta, Satuan Kapal Cepat, Satuan Kapal Amfibi, Satuan Kapal Ranjau dan Satuan Kapal Patroli. Selain itu melibatkan satu KRI dari Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) dan sejumlah kendaran tempur dari Korps Marinir.

Kegiatan manuver lapangan sejak mulai tolak dari pangkalan Jakarta, unsur-unsur yang terlibat dalam Latihan Glagaspur Tingkat III Terpadu akan mengikuti beberapa serial latihan dalam rangka kesiapan tempur, profesionalisme prajurit dan meningkatkan kemampuan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) serta kerja sama taktis antar unsur KRI.

Unsur-unsur yang terlibat dalam latihan Glasgaspur diantaranya KRI Yos Soedarso-353, KRI Silas Papare–386, KRI Wiratno-379, KRI Sutedi Sena Putra-378 dan KRI Teuku Umar–385 dan KRI Pulau Rangsang-727

Sendangkan KRI yang direncanakan berangkat dari dermaga TNI Angkatan Laut di Mentigi Tanjung Uban sejumlah tujuh kapal perang antara lain KRI Barakuda-633, KRI Siliman- 848 dan KRI Sigurot-864 serta dua kapal baru produksi dalam negeri ikut pula dilibatkan dalam latihan ini diantaranya KRI Banda Aceh-593 dan KRI Clurit–641.

Selain itu melibatkan Tim Pasukan Katak dari Detasemen Pasukan Katak Satuan Komando Pasukan Katak Koarmabar dan sejumlah pasukan Marinir pengawak Tank PT-76 yang akan melaksanakan kegiatan latihan pendaratan dengan Docking dan Undocking di KRI jenis Landing Platform Dock (LPD) KRI Banda Aceh-593 pada posisi sekitar dua sampai dengan tiga mil dari daratan salah satu pulau di Kepulauan Natuna.

Sumber: Koarmabar

Senin, 13 Februari 2012

Bagian II: Suka Duka Awak KRI Naggala

(Foto: Kaskus)

14 Februari 2012: Bagi awak KRI Nanggala-402,berada di kedalaman air selama beberapa bulan punya cerita keseharian sendiri. Meski berada di dalam air, bukan berarti bisa mandi setiap hari.

Sebaliknya gerah dan gatal hampir menjadi rutinitisan mereka di dalam kapal selam. Bayangkan saja, sebulan sekali mereka baru dapat jatah mandi. Jangan kaget jika mendapati awak kapal selam berbau sedikit apek begitu selesai berlayar.Ini karena mereka jarang diguyur air selama berlayar.

Untuk membersihkan badan,mereka biasanya hanya menggunakan tisu basah, atau hanya mengusapnya dengan handuk hangat begitu saja. Bahkan kalau kondisi darurat kadang mereka hanya ganti pakaian saja. Semua dilakukan bukan karena malas atau berlaku jorok,tetapi karena aktifivas yang begitu padat sepanjang berlayar.

Untuk sekedar mandi mereka kadang tidak sempat.” Awak kapal ini terbatas, karena hanya 34 orang.Semua konsentrasi penuh dengan tugas masing-masing,”kata salah seorang awak KRI Nanggala-402 Pelda Suprapdi Beberapa alasan menurut Suprapdi adalah karena jumlah cadangan air di dalam kapal selam yang terbatas, sehingga pemakaiannya harus super hemat.

Ini karena kapasitas tampung air dalam kapal hanya 15.000 liter saja. Jumlah air tersebut dipakai untuk minum, mandi,b ersuci, memasak,dan MCK selama hampir sebulan. ”Karena air terbatas, sehingga tidak bisa dipakai seenaknya. Paling hanya bisa dikurangi untuk cuci muka dan ambil air wudlu saja. Selebihnya untuk cadangan minum dan memasak,” katanya.

Kendati punya jatah mandi sekali, bukan berarti mereka bisa berlama-lama saat berada di kamar mandi.Ini karena jumlah kamar mandi yang terbatas, sementara awak yang mengantre begitu banyak. ”Kamar mandi hanya dua. Satu untuk komandan satu lagi untuk kita.Jadi harus gantian. Makanya selalu antre panjang kalau pas jadwal mandi. Nah,kalau yang punya kebiasaan bernyanyi saat mandi, di sini tidak bisa. Sebab di luar banyak yang menunggu,” katanya mengisahkan pengalamannya berada di kapal selam.

Tidak hanya urusan mandi saja kata Suprapdi yang harus bergantian,tidur pun demikian. Para awak KRI Nanggala tidak bisa tidur seenaknya karena harus bergiliran jaga. Untuk setiap awak misalnya, rata-rata hanya punya jatah tidur 4 jam dengan waktu yang tidak menentu. Semua dilakukan dengan sistem shift seperti tugas jaga.

Saat awak lain menjalankan tugas piket misalnya,maka awak lainnya mendapat giliran tidur,begitu seterusnya hingga 36 awak mendapat jatah merata.”Jadi kalau tidur tidak mesti malam hari. Kalau jatahnya pas siang ya siang itu harus tidur. Kalau tidak,maka jatahnya hangus,” imbuhnya.

Karena jatah yang minim pula kadang awak kapal selam susah tidur dengan nyaman. Apalagi kondisi tempat tidur juga sangat sempit, menempel di dinding kapal dan hanya berukuran 170 x 50 cm.Dengan ukuran ini,praktis mereka tidak bisa bergerak bebas saat tidur,misalnya mengubah arah kepala atau bahkan mlungker (menekuk kaki dan badan) saat kedinginan.

Bahkan saat bangun pun mereka tidak bisa langsung duduk seperti di tempat tidur normal. Ini karena tinggi tempat tidur yang tidak lebih dari 40 cm. Tak hanya itu saja,besarnya gelombang air laut seringkali juga membuat mereka mendadak terjaga saat tidur. Ini karena tubuh mudah tergoyang dan membentur dinding.

Kendati demikian,para awak kapal tidak lantas jenuh dan menyerah.Sebaliknya mereka tetap tegar dan semangat menjalankan tugas dengan profesional.”Bertugas di tengah keterbatasan sudah menjadi resiko, sehingga harus tetap dinikmati. Dan kami bersyukur karena masih bisa melewatinya dengan baik,” katanya.

Bagi Suprapdi sukses menjalankan tugas yang diperintahkan atasan adalah sesuatu yang luar biasa.”Kalau semua itu sudah tercapai, maka semua penderitaan selama bertugas menjadi sirna,”tandasnya.

Sumber: SINDO

Bagian I: Suka Duka Awak KRI Naggala

KRI Nanggala-402 saat uji pelayaran di Korsel. (Foto: Kaskus)

13 Februari 2012: Berada di kedalaman laut,dikurung dalam kapal selam yang sempit selama puluhan hari bukanlah perkara mudah.Rasa jenuh, stres,hingga gangguan kejiwaan,menjadi ancaman nyata.

Belum lagi keganasan laut yang bisa menenggelamkan mereka sewaktu-waktu. Keceriaan terus tergambar dari raut para awak KRI Nanggala-402 begitu mendarat di dermaga Armatim beberapa hari lalu. Perasaan puas sekaligus bahagia tersungging dari senyum mereka.Ini karena mereka sukses mengemban misi membawa pulang KRI Nanggala-402 dari proses overhaul di Korea Selatan.

Tetapi bukan itu saja,bisa menghirup udara alam bebas adalah sesuatu yang luar biasa bagi mereka. Bayangkan saja,21 hari lamanya mereka berada dalam kapal yang sempit. Menyelami lautan bebas hingga ratusan mil,belum lagi berkutat dengan rutinitas dan teman yang sama selama itu. Tentu ini menjadi hal yang membosankan bagi manusia normal. Namun,jiwa mereka telah terpatri dengan semboyan ‘Tabah Sampai Akhir’,seperti yang diajarkan para pelaut terdahulu.

Sehingga seberat apapun resiko yang dihadapi,pantang bagi mereka untuk mundur apalagi menyerah saat berjuang. Memang,para awak kapal selam bukanlah prajurit biasa. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang mampu bertahan dalam situasi dan kondusi sesulit apapun. Tetapi itulah faktanya,nasib para awak kapal selam bisa dibilang tidak seenak awak kapal atas laut biasa.

Ini karena segala aktifitas mereka terbatasi. Jangankan bergerak ke sana-kemari, merokok pun tidak bisa mereka lakukan setiap waktu.Ini karena mereka berada berada di dalam kapal yang tertutup,bersama mesin kapal yang sensitif dengan asap maupun api.Padahal,di kedalaman laut yang dingin rokok bisa menjadi penawarnya. Tetapi,para awak KRI Nanggala-402 memiliki cara khusus untuk mengobati keinginan merokok itu.

Saat kondisi air laut tenang misalnya, kapal dijalankan dengan setengah terapung. Tujuannya, bagian tengah kapal yang tinggi bisa berada di permukaan air laut,sehingga mereka bisa naik dan menghisap rokok. ”Kalau kapal sudah mengapung seperti ini,kita biasanya berebut naik untuk merokok. Tetapi karena waktunya terbatas,kita tidak bisa berlama-lama,sebab harus bergantian dengan awak yang lain.

Paling hanya dua batang setelah itu turun lagi,”tutur salah seorang awak KRI Nanggala Lettu Laut (P) Hadhito. Namun aktifitas merokok lanjut Hadhito akan berhenti total kalau kondisi gelombang air laut sedang tinggi. Sebab pada situasi itu kapal sulit mengapung, karena harus menjaga keseimbangan akibat hantaman gelombang.”Kalau sudah seperti ini,kami biasanya hanya berdiri di dalam kapal sambil berpegangan agar tidak jatuh. Apalagi kalau pas ada badai atau berlayar di laut yang dalam,” katanya.

Hadhito menambahkan, meski sudah terlatih, perasaan was-was kadang masih tetap muncul saat berada di bawah laut.Kondisi ini biasanya muncul saat kapal berlayar di bawah laut yang dalam. Ini karena arus bawah laut cukup kencang, sehingga resiko bahaya juga cukup besar,seperti di laut China Selatan atau Laut Banda Maluku.”Dua lokasi ini terbilang paling angker, sebab ombaknya tidak bisa diprediksi,” kata perwira yang juga putra Kasal Laksamana Soeparno ini.

Tetapi lanjut Hadhito, para awak kapal selam sudah punya penangkal untuk menghadapi kedalaman laut tersebut.Penangkal itu tak lain berupa tradisi meminum air laut kedalaman. Setiap mengarungi kedalaman baru misalnya, maka tradisi meminum segelas air laut wajib dilakukan. ”Kapal selam ini biasanya berlayar di kedalaman 30 meter. Nah bagi mereka yang belum pernah belayar di kedalaman itu, maka wajib minum air laut. Ritual serupa juga akan kami lakukan jika kapal turun lagi di kedalaman bawah 30 meter.

Saat kapal di kedalaman 50 meter misalnya, maka harus minum air laut lagi, begitu seterusnya,sampai kapal ini berlayar di batas kedalaman maksimum 200 meter,”imbuh Serma PTB M Nuril Huda. Tradisi minum air laut kedalaman kata Nuril tidak hanya berlaku bagi anggota saja,tetapi juga komandan, perwira pelaksana maupun juga kepala kamar mesin.”Kalau sudah seperti ini kami tidak membedakan pangkat dan jabatan.

Siapa yang belum pernah masuk di kedalaman itu ya wajib minum air laut.Sebab ada sugesti dari kami,bahwa kalau sudah meminum air itu,maka kita akan menyatu dengan laut,”kata prajurit asal Lamongan ini. Pada ritual inilah,kadang banyak awak kapal yang tidak kuat karena rasa air yang begitu asin.Bahkan mereka yang tidak kuat bisa langsung diare. ”Walau begitu,tradisi ini tetap wajib diikuti,”tandasnya.

Sumber: SINDO

Jumat, 10 Februari 2012

TNI AL Gelar Operasi Alur Hiu-12

KRI Ahmad Yani-351. (Foto: Lantamal VI)

10 Februari 2012, Makassar: Bertempat di Perairan Selat Makassar, Komandan Gugus Keamanan Laut Armada RI Kawasan Timur (Guskamlatim) Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Adji memimpin pelaksanaan Operasi/Latihan Tempur Laut dengan sandi “Alur Hiu-12”. Operasi Alur Hiu-12 merupakan operasi keamanan laut yang dilaksanakan rutin sepanjang tahun oleh TNI AL dengan tujuan untuk menjaga keamanan perairan Indonesia di sepanjang ALKI II dan III.

Empat KRI yang melaksanakan latihan tempur laut terpadu di Perairan Selat Makassar yaitu KRI Ahmad Yani-351 dengan Komandan Kolonel Laut (P) Ariantyo Condrowibowo, KRI Ajak-653 dengan Komandan Letkol Laut (P) Joni Sudianto dan KRI Birang-831 dengan Komandan Mayor Laut (P) Lewis N Nainggolan. Sebelum melaksanakan latihan tempur laut, dilaksanakan pemantapan dan pemaparan rencana latihan di Mako Lantamal VI Makassar.

Dalam sambutan Komandan Gugus Keamanan Laut Armada RI Kawasan Timur Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Adji menyampaikan arahan bahwa melihat perkembangan situasi saat ini, maka dalam melaksanakan operasi jangan terpaku pada kegiatan rutinitas, dinamika kegiatan harus selau diikuti dan diantisipasi terutama dalam melaksanakan operasi pengamanan ALKI II dan III. Kesiapsiagaan setiap unsur harus selalu diuji keterampilannya. Ancaman ke depan akan semakin berat, untuk itu perlu adanya peningkatan profesionalisme pengawak Alut Sista. Diharapkan TNI AL dalam melaksanakan tugas pokoknya untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negara di laut dapat terlaksana dengan baik.

KRI Ajak-653. (Foto: Lantamal VI)

Hadir dalam kegiatan tersebut Wadan Lantamal VI, Asops Danlantamal VI, Aslog Danlantamal VI, Asintel Guskamlatim, Aslog Guskamlatim, dan seluruh Perwira KRI dan Perwira Lantamal VI yang terlibat dalam kegiatan latihan tersebut. Adapun materi latihan tempur laut terpadu yang dilaksanakan meliputi latihan Lawan Sabotase Bawah Air (LSBA), Keluar Masuk Alur Pelabuhan, Melewati Medan Ranjau, Flag Hoist, Flashex, Manuvra Taktis dan Pertahanan Udara.

Secara bersamaan Lantamal VI juga menggelar latihan Pertahanan Pangkalan. Komandan Lantamal VI Brigadir Jenderal Marinir Suwandi Thahir mengharapkan melalui Latihan Pangkalan yang digelar ini dapat mengsinergikan kerjasama yang baik antara KRI dengan Pangkalan sehingga dapat meningkatkan kemampuan tempur Prajurit Matra Laut yang senantiasa siap sedia dalam menghadapi medan penugasan.

Sumber: Dispen Lantamal VI

KRI Dewa Ruci Tiba di Republik Marshaal


10 Februari 2012, Kwajelain: Dalam rangka muhibah pelayaran internasional tahun 2012, Kapal Latih Kadet Akadeni TNI AL buatan Jerman yang kini berusia 59, pagi ini Jumat (10/2) pukul 10,00 waktu setempat atau pukul 06.00 WIB tiba di Kwajelain, Negara Republik Marshaal disambut oleh Athase Laut Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Kolonel Laut (KH) Anwar Saadi dan beberapa perwira dari US Army yang sedang bertugas di Kwajelain.

Komandan KRI DWR Letkol Laut (P) Bima Bayuseta saat akan merapatkan kapal di dermaga Kwajelain, disambut sebuah speet boat Polisi perairan yang membawa Athase Laut Kolonel Laut (KH) Anwar Saadi di dampingi dua perwira US Army, Mayor Mili.S dan Mayor Parris, selanjutnya Komandan KRI DWR mendapat kalungan bunga yang diberikan oleh anak laki-laki berumur 6 th bernama Andrian Peterson, kemudian acara diteruskan dengan peninjauan ke kapal. Athan RI ini sebenarnya sudah tiba di Kwajelain hari Rabu,(8/2) karena menurut rencana KRI DWR tiba di kota ini hari Rabu. Namun karena kendala gelombang dan angin yang kurang bersahabat di Pasific, sehingga kedatangan kapal di Kwajelain tertunda 2 (dua ) hari.

Selama di Kwajelain Satgas akan melakukan beberapa aktifitas antara lain jam 18.00 melakukan kirab kota dan BBQ / portuck ( jamuan makan serba ikan bakar ) dan sepak bola persahabatan antara US Army dengan Prajurit KRI Dewaruci seperti yang pernah dilaksanakan pada saat tahun 2007 setelah selesai pelaksanaan kirab kota, di tempat tersebut juga berbagai jenis hiburan yang di tampilkan oleh tentara US Army dan Band KRI DWR hingga pukul 21.00.

Keeesokan harinya akan melaksanakan open ship, kemudian pada pukul 15.00 waktu setempat KRI Dewaruci akan melanjutkan perjalanannya menuju Honolulu USA, yang direncanakan akan memakan waktu 17 hari.

Sumber: Dispenarmatim

Rabu, 08 Februari 2012

Kemhan Anggarkan US$80 Juta untuk Kapal Latih TNI AL

KRI Dewa Ruci saat berlabuh di Kolombo. KRI Dewa Ruci akan digantikan kapal baru denggan anggaran 80 juta dolar. (Foto: Kemlu)

8 Februari 2012, Jakarta: Kementrian Pertahanan (Kemhan) telah menetapkan anggaran sebesar US$80 juta untuk pengadaan kapal latih TNI Angkatan Laut yang akan menggantikan KRI Dewaruci. Kemhan akan melakukan tender guna mencari produsen yang mampu memenuhi kebutuhan TNI AL. “Pengadaannya baru diproses, tapi kami sudah menetapkan anggaran yaitu sebesar US$70 juta-US$80 juta,” kata Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto di Jakarta, Rabu (8/2)

Menurutnya, kapal latih yang diminta TNI AL sudah tidak diproduksi dimanapun. Karenanya dia memperkirakan pengadaan kapal tersebut akan memakan waktu cukup lama. Eris juga mengungkapkan, TNI AL membutuhkan kapal latih yang lebih besar dari KRI Dewaruci. “Kami akan melakukan tender pengadaannya. Kalau tidak salah yang sudah menjajaki dari Polandia, Belanda, dan Spanyol,” sebut Eris.

KRI Dewaruci adalah kapal latih tiang tinggi buatan Jerman tahun 1952. Kapal ini memulai pelayaran keliling dunia pertamanya pada 1964 dan terakhir kali pada 15 Januari 2012 lalu. KRI Dewaruci memiliki 16 layar berbagai ukuran dengan panjang kapal 58,30 meter, lebar 9,50 meter, draft 4,5 meter, berat 874 ton. KRI Dewaruci memiliki kecepatan 10,5 knot dan layar 9 knot serta luas layar 1.091 meter persegi.

Sumber: Jurnas

Mahfudz Siddiq Optimistis dengan Kemampuan KRI Nanggala

KRI Nanggala-402 saat uji pelayaran di Korsel. (Foto: Kaskus)

8 Februari 2012, Senayan - Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq optimistis kapal selam TNI AL KRI Nanggala-402 yang baru selesai diperbaiki di Korea Selatan selama 2 tahun, akan kembali mampu memperkuat tugas menjaga wilayah kedaulatan NKRI.

Menurut Mahfudz Siddiq, peningkatan kemampuan kapal selam KRI Nanggala-402 itu di antaranya engine, combat management system, dan perbaikan fisiknya. "Setelah KRI Nanggala-402 ini selesai diperbaiki, kini KRI Nanggala-402 mampu melakukan penembakan dalam satu waktu langsung ke empat penjuru," tegasnya di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (8/2).

Kata Mahfudz, KRI Nanggala-402 kini juga mengalami peningkatan dalam hal kemampuan sistem radar dan sonar, untuk melakukan pendeteksian objek lawan. "KRI Nanggala-402 juga kini mengalami peningkatan dalam kemampuan penembakan sasaran. sekarang ini melakukan penembakan pada 4 sasaran berbeda dalam satu sistem kontrol," tegasnya.

Seperti diketahui, setelah menjalani perawatan total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan, dan berlayar selama 17 hari, kapal selam TNI AL KRI Nanggala-402 tiba di Dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Ujung, Surabaya, Jawa Timur, Senin (6/2).

Sumber: Jurnal Parlemen

Senin, 06 Februari 2012

KRI Nanggala-402 Kembali Perkuat Koarmatim Setelah Usai Repowering


6 Februari 2012, Surabaya: Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno menyambut kedatangan Kapal Selam TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala-402 di dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, Senin 6 Februari 2012 yang telah selesai menjalani overhaul di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Enggineering, Korea Selatan. Selain dihadiri para pejabat teras TNI AL, penyambutan KRI Nanggala-402 juga dihadiri Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq bersama sejumlah anggota Komisi I DPR RI, pejabat teras Kemhan, dan Mabes TNI.

KRI Nanggala-402 merupakan kapal selam tipe U-209 bermesin diesel elektrik buatan Kiel, Jerman tahun 1981 dan merupakan salah satu kapal selam andalan Indonesia, segera memperkuat kembali jajaran TNI AL setelah menjalani perbaikan menyeluruh selama kurang lebih dua tahun. Kapal selam eks Jerman yang mulai memperkuat armada kapal selam TNI AL sejak tahun 1981 itu diperbaiki total mulai dari fisik, sistem navigasi hingga persenjataan.

Untuk menjalani overhaul, KRI Nanggala-402 yang dikomandani Letkol Laut (P) Purwanto berangkat dari Surabaya sejak tanggal 9 Desember 2009 dan tiba di DSEM Okpo, Korea Selatan 19 Desember 2009. Setelah menjalani perbaikan menyeluruh, KRI Nanggala-402 bertolak dari Korea Selatan sejak tanggal 21 Januari 2012 dan tiba di Koarmatim, Surabaya tanggal 6 Februari 2012.

KRI Nanggala-402 saat uji pelayaran di Korsel. (Foto: Kaskus)

Sebelum merapat, KRI Nanggala-402 melintas di depan Dermaga Madura serta para anak buah kapal melaksanakan peran Parade Rool dan melaksanakan penghormatan. Dari dermaga, Koorsik Lantamal V mengiringi dengan lagu Hymne Hiu Kencana yang dinyanyikan oleh anggota TNI AL dari satuan Kapal Selam Koarmatim.

Setelah kapal merapat lambung kanan di Dermaga Madura Koarmatim, Komandan KRI Nanggala-402 melaksanakan laporan dan penghormatan kepada Kasal Laksamana TNI Soeparno serta pengalungan bunga oleh Ketua Umum Jalasenastri Ny. Lilik Soeparno kepada Letkol Laut (P) Purwanto dilanjutkan peninjauan Kasal bersama para pejabat dan undangan lainnya.

Pada kesempatan ini, Kasal bersama anggota Komisi I DPR RI, para pejabat dan undangan lainnya juga melaksanakan kunjungan ke KRI Yos Sudarso-353 dan KRI Sultan Hasanudin-366 di dermaga yang sama. Setelah itu dilaksanakan serah terima KRI Nanggala-402 dari Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto kepada Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto, selanjutnya dari Aslog Kasal diserahkan kepada Panglima Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. yang disaksikan oleh Kasal Laksamana TNI Soeparno di Lounge Room Majapahit, Koarmatim. Kemudian penyerahan maket KRI Nanggala-402 dari Kasal Laksamana TNI Soeparno kepada Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq, dari pihak DSME menyerahkan maket kapal selam kelas Zog kepada kasal.

KRI Nanggala-402 mengambil nama dari senjata pewayangan “Nanggala” dibuat oleh Howaldtswerke, Kiel, Jerman tahun 1981 tipe U-209/1300. Kapal selam ini memiliki berat 1.395 ton, dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot dan diawaki 35 anak buah kapal. Setelah overhoul KRI Nanggala-402 telah dilengkapi sonar teknologi terkini, dengan persenjataan mutakhir, antara lain torpedo, dan persenjataan lainnya. Sebelum overhoul KRI Nanggala-402 aktif melaksanakan berbagai misi dalam rangka penegakkan kedaulatan, hukum dan kemanan di laut, serta latihan yang digelar TNI AL. Pada latihan operasi laut gabungan tanggal 8 April s.d. 2 Mei 2004, KRI Nanggala-402 menunjukan kemampuan sebagai monster bawah laut dengan menembakkan torpedo dan berhasil menenggelamkan KRI Rakata yang dijadikan sebagai sasaran tembak pada latihan dimaksud.

KRI Nanggala-402 saat uji pelayaran di Korsel. (Foto: Kaskus)

Guna mewujudkan pencapaian pembangunan kekuatan TNI AL di tengah keterbatasan dukungan alokasi anggaran yang ada, maka dilaksanakan strategi pencapaian berupa:
- pengadaan alutsista yang mengutamakan pemberdayaan industri dalam negeri;
- peningkatan kemampuan alutsista yang ada;
- serta penghapusan alutsista yang sudah tidak efektif lagi.

Selain pengadaan kapal selam baru, TNI AL juga meningkatkan kemampuan KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 dengan melaksanakan overhoul di Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan. Overhoul KRI Cakra-401 dilaksanakan mulai bulan Mei 2004 dan selesai tanggal 13 Februari 2006 dengan hasil optimal serta telah operasional hingga saat ini. Selanjutnya overhoul KRI Nanggala-402 yang dimulai sejak bulan Desember 2009 di galangan yang sama telah berhasil diperbaharui hingga pada kondisi awal yang rata-rata tingkat kesiapan mencapai 100 persen. Saat ini, KRI Nanggala-402 telah tiba di tanah air dan merapat di Koarmatim, selanjutnya siap melaksanakan misi untuk menegakkan kedaulatan, hukum dan keamanan di laut dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kapal selam merupakan senjata berdaya tangkal tinggi, karena karakternya yang sulit dideteksi dan mampu membawa berbagai jenis senjata, seperti torpedo, ranjau maupun peluru kendali. Bagi Indonesia memiliki dan mengoperasikan kapal selam akan memperkuat daya dan kekuatan tangkal (Deterrence effect). Sejarah peperangan laut membuktikan, bahwa hanya kapal selam yang mampu masuk dan menembus jantung pertahanan lawan. Kapal selam juga dapat menghancurkan center of grafity sebuah armada tempur, demikian juga sebaliknya dapat menjadi center of grafity Angkatan Laut.

Para kesatria laut yang berdinas di kapal selam merupakan prajurit TNI AL terpilih yang senantiasa menggelorakan semangat pengabdian “Tabah Sampai Akhir”. Hal ini tidaklah berlebihan karena bagi para Submariner harus senantiasa menghadapi situasi yang paling membahayakan bahkan dapat dikatakan ekstrim sekalipun. Fakta-fakta tersebut, semakin menguatkan bahwasanya kapal selam adalah senjata yang bernilai strategik bagi TNI AL, artinya, memiliki kapal selam baik dalam jumlah yang cukup maupun kemampuan tempur (Combat Capability) yang kuat merupakan keniscayaan dalam mewujudkan postur TNI AL yang handal dan disegani.

Sumber: Dispenarmatim

Minggu, 05 Februari 2012

KRI Nanggala-402 Kembali dengan Instrumen Baru

Dua perwira kapal selam KRI Nanggala-402 menunjukkan instrumen baru dalam kapal perang yang baru kembali setelah diperbaiki di Dermaga Madura, Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, Surabaya, Senin, (6/2). Kapal selam yang diperbaiki di galangan kapal Daewoo Shipbuildings & Marine Engineering, Korea Selatan tersebut akan memperkuat arsenal bawah air Indonesia bersama KRI Cakra-401. (Foto: ANTARA/Ade P Marboen/ed/ama/12)

6 Februari 2012, Surabaya: Setelah 24 bulan diperbaiki menyeluruh (overhaul and retrofit) di dermaga Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan, KRI Nanggala-402 kembali memperkuat armada TNI-AL, Senin.

Bedanya kali ini, sistem manajemen tempur dan operasi kapal selam kelas U-209/1300 itu diperbarui memakai sistem dari Norwegia.

Dari sisi luar Dermaga Madura, Markas Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, kapal selam berkelir hitam itu muncul mengapung perlahan-lahan.

Sambutan kehadiran kembali KRI Nanggala-402 buatan Jerman itu diberikan Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, Panglima Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, Laksamana Muda TNI Ade Sopandi, dan Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, serta perwakilan dari Daewoo.

Setelah merapat dan ditambat di dermaga itu, upacara singkat kedatangan KRI Nanggala-402 dilakukan antara semua unsur pimpinan TNI-AL dan Komandan KRI Nanggala-402, Letnan Kolonel Pelaut Purwanto.

Menyinggung kehadiran kembali kapal dari Satuan Kapal Selam TNI-AL itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya TNI Eris Haryanto, menyatakan, "Kita puas dengan kinerja Daewoo ini. Mereka pendatang baru di dunia perkapalselaman dunia namun bisa membuktikan janji dan komitmennya."

Sistem baru KRI Nanggala-402 diterapkan dari teknologi manajemen tempur dan operasi dari Norwegia. Teknologi digital itu memungkinkan komandan kapal mengambil keputusan secara lebih cepat, efisien, dan tepat atas posisi dan kedudukan kapal terhadap sasaran yang dituju.

Sebelum memakai teknologi dari Norwegia itu, KRI Nanggala-402 sebagaimana "kembarannya" KRI Cakra-401 memakai teknologi Sinbad dari Belanda yang bekerja secara manual.

Kebolehan sistem baru itu juga diujicobakan selama pelalayaran pulang dari Korea Selatan menuju perairan Indonesia sejak 21 Januari lalu dan tiba di perairan Selat Madura pada Senin pagi.

Contoh kebolehan itu --dalam operasi tempur sebenarnya-- kapal bisa meluncurkan empat torpedo secara salvo pada selang waktu sangat rapat. Kapal selam sepanjang 59 meter itu sendiri memiliki delapan tabung peluncur torpedo pada ujung haluan utamanya.

Sumber: ANTARA News

Kapal Selam KRI Nanggala-402 Tiba di Surabaya

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno (menuruni tangga usai melakukan inspeksi ke dalam kapal selam KRI Nanggala-402 di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2). Kapal selam tersebut kembali bergabung dengan TNI AL usai menjalani perbaikan menyeluruh di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/12)

6 Februari 2012, Surabaya: Kapal selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala-402, Senin, merapat di Dermaga Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, setelah menjalani perbaikan menyeluruh selama hampir dua tahun di Korea Selatan.

Kedatangan kapal selam buatan Jerman itu disambut langsung Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno, anggota Komisi I DPR RI, pejabat Kementerian Pertahanan, dan petinggi TNI AL.

KSAL dan sejumlah pejabat yang hadir menyempatkan diri meninjau bagian dalam kapal yang diperbaiki total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korsel, sejak Desember 2009 itu.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan TNI AL dan bergabung dengan satu kapal selam lainnya KRI Cakra-401.

Anggota TNI AL melakukan penghormatan ketika kapal selam KRI Nanggala-402 tiba di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin (6/2). (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/Koz/12)

Seperti halnya KRI Nanggala, kapal selam KRI Cakra juga sudah lebih dulu menjalani "overhoul" di galangan yang sama di Korsel pada 2004-2006.

Perbaikan total yang dijalani KRI Nanggala meliputi, struktur kapal, lapisan baja, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonar berteknologi terkini.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter dengan mesin diesel elektrik yang mampu melaju hingga kecepatan sekitar 25 knot di dalam air.

Sumber: ANTARA News

Kapal Selam "Nanggala" Tiba di Perairan Indonesia

KRI Nanggala diserahterimakan ke Indonesia oleh DSME. (Foto: DSME)

5 Februari 2012, Jakarta: Kapal selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala-402 telah tiba di perairan Indonesia, setelah menjalani perbaikan menyeluruh di Korea Selatan selama hampir dua tahun.

Juru bicara TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati kepada ANTARA di Jakarta, Minggu mengungkapkan KRI Nanggala kemungkinan sudah berada di Laut Jawa sebelum akhirnya tiba di Dermaga Ujung Surabaya, Komando Armada RI Kawasan Timur, Senin (6/2).

"KRI Nanggala secara resmi akan disambut kedatangannya oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno dan Ketua Komisi I DPR," katanya menambahkan.

Seperti KRI Cakra-401, maka KRI Nanggala menjalani perbaikan total di galangan kapal di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan.

Kembalinya kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu, memantapkan kekuatan pemukul TNI Angkatan Laut bersama KRI Cakra-401 sebagai arsenal bawah laut Tanah Air.

Selama perbaikan total di Korea Selatan itu, KRI Nanggala-402 bermesin diesel-listrik buatan galangan kapal di Kiel, Jerman, itu diperkuat struktur kapal, lapisan bajanya, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonarnya.

KRI Nanggala dan KRI Cakra dibuat galangan kapal Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada 1981 tipe U-209/1300.

Kapal selam tersebut berbobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot di dalam air, menyelam di kedalaman sekitar 200 meter dari permukaan laut.

Sumber: ANTARA News

Jumat, 03 Februari 2012

KRI Nanggala Dijadwalkan Tiba 6 Februari di Surabaya

KRI Nanggala-402 saat uji coba pelayaran di Korsel. (Foto: Kaskus)

3 Februari 2012, Jakarta: Kapal selam TNI-AL, KRI Nanggala-402 dalam pelayaran kembali ke Tanah Air setelah dua tahun direparasi total di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. Direncanakan dia akan merapat ke pangkalannya di Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI-AL, Surabaya, pada 6 Februari nanti.

Kepala Staf TNI-AL, Laksamana TNI Soeparno, dan sejumlah besar pimpinan TNI-AL beserta pimpinan DPR akan menyambut kehadiran kembali kapal selam tipe U-209/1300 buatan Jerman pada 1981 itu. Dengan kehadiran kembali KRI Nanggala-402 maka lengkap kekuatan kapal selam Indonesia karena KRI Cakra-401 telah lebih dahulu memperkuat arsenal bawah laut Tanah Air.

Selama perawatan total di Korea Selatan itu, KRI Nanggala-402 bermesin diesel-listrik buatan galangan kapal di Kiel, Jerman, itu diperkuat struktur kapal, "kulit" bajanya, sistem navigasi, dan persenjataan bawah air serta sonarnya. Yang terakhir ini sangat vital dan bisa dibilang menjadi mata, telinga, dan indra peraba kapal selam untuk menghantam ataupun penghindari lawan.

Kali ini, KRI Nanggala-402 dikomandani Letnan Kolonel Pelaut Purwanto, melayari perairan di selatan Korea Selatan hingga memasuki perairan Nusantara. Kapal berkelir hitam dengan beberapa menara pengintai dan penghisap udaranya itu telah meninggalkan Indonesia sejak Desember 2009 dan menjalani pelayaran percobaan pasca perawatan besar di Korea Selatan pada Desember 2011.

Sebelum KRI Nanggala-402, galangan kapal sama di Okpo, Korea Selatan, itu juga sukses merawat secara menyeluruh terhadap KRI Cakra-401, kapal selam identik dengan dia mulai Mei 2004 hingga 13 Februari 2006. Dengan kedua proses perawatan berat itu, Indonesia juga menyerap pengetahuan dan penguasaan teknologi perkapalselaman dari negara maju.

Sejak pertama kali memiliki kapal-kapal selam pada masa Orde Lama, TNI-AL menamai flotila kapal selamnya dengan nama-nama senjata perwayangan. KRI Nanggala-402 mengambil nama dari senjata pewayangan "Nanggala", sebagaimana halnya dengan KRI Cakra-401, dibuat galangan kapal Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada 1981 tipe U-209/1300.

Kapal selam ini memiliki bobot mati 1.395 ton, berdimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Dengan mesin diesel elektrik mampu melaju dengan kecepatan kurang lebih 25 knot di dalam air, menyelam di kedalaman sekitar 200 meter dari permukaan lut, dan diawaki 35 anak buah kapal termasuk komandannya.

Indonesia merupakan negara pertama di ASEAN yang memiliki kapal selam, sejak masa pemerintahan Soekarno. Tercatat Indonesia pernah memiliki hingga 12 kapal selam kelas Whiskey dari Rusia, bahkan sebagian sempat "dipinjamkan" secara diam-diam kepada Pakistan untuk menghadapi armada laut India pada dasawarsa '60-an.

Dalam banyak buku ajar dan praktik peperangan laut dan maritim, kepemilikan dan pengerahan kapal selam bernilai amat sangat strategis. Kapal selam juga mampu menjadi alat pemunah akhir yang sangat sulit diperkirakan manuvrabilitasnya dalam banyak peperangan laut dunia.

Walau saat itu Indonesia merupakan negara baru, namun Presiden Soekarno sangat paham akan peran strategis flotila kapal selam itu, sehingga pendekatan dengan Blok Timur menghasilkan kehadiran 12 kapal selam kelas Whiskey dari Rusia itu.

Di ASEAN, belakangan Singapura memiliki empat kapal selam bekas Kerajaan Swedia dari kelas Sjoormen (di Inggris dikenal sebagai kelas Challenger); diikuti Malaysia yang membeli kapal selam baru kelas Scorpene dari Perancis.

Sumber: ANTARA News

Selasa, 31 Januari 2012

Perawatan Alutsista Memperpanjang Usia Pakai


1 Februari 2012, Surabaya: Pemandangan menarik setiap hari terjadi di beberapa kapal yang sandar atau lego di lingkungan Koarmatim. Seluruh ABK (Anak Buah Kapal), mulai pangkat perwira, bintara maupun tamtama, berkutat merawat dan bersih-bersih kapalnya. Kegiatan ini dilakukan setiap hari, tanpa henti dan berkesinambungan. Seperti pagi ini, Rabu (1/2), seluruh ABK melakukan pemeliharaan dan pembersihan kapal.

Ada satu alasan yang tidak bisa ditawar dalam kegiatan ini, yaitu memperpanjang usia kapal. Dengan merawat setiap hari, diharapkan kondisi peralatan tempur yang ada siap dioperasikan setiap saat. Pemeliharaan Alat Utama Sistim Persenjataan (Alutsista) berupa kapal-kapal perang dan perlengkapannya, menjadi tugas utama bagi setiap ABK ketika kapal tidak berlayar.

Perawatan dilaksanakan pada saat kapal sandar di dermaga mulai perawatan lambung kapal, geladak, persenjataan, radar, mesin dan ruangan-ruangan yang ada di dalam kapal. Tugas tersebut dilaksanakan oleh prajurit KRI sesuai dengan sektor dan bagian masing-masing yang memiliki tugas khusus dibidangnya seperti bagian bahari yang bertugas melaksanakan perawatan bangunan kapal mulai dari haluan sampai buritan, bagian komunikasi melaksanakan perawatan alat-alat komunikasi, bagian elektronika melaksanakan perawatan dan pemanasan alat-alat elektronika berupa radar senjata, radar navigasi, radar bawah air (Sonar) dan sebagainya.

Tehnologi kapal-kapal perang di Koarmatim bervariasi, sesuai dengan tahun dan pembuatan kapal. Kapal-kapal buatan baru, tentunya dilengkapi dengan teknologi dan persenjataan baru. Demikian juga kapal-kapal lama dilengkapi dengan teknologi dan persenjataan pada jamannya meskipun ada sebagian kapal lama yang di up-grade persenjataannya dengan senjata model baru. Untuk menjaga kondisi peralatan dan kapal perang tersebut dapat beroperasi dalam jangka waktu yang panjang, maka perawatan dan pemeliharaan harus dilaksanakan secara rutin.

Selain melaksanakan tugas tersebut, prajurit KRI juga melaksanakan latihan-latihan tempur yang dilaksanakan setiap hari, terutama latihan peran Penyelamatan Kapal (PEK) berupa latihan peran kebakaran dan kebocoran. Gladi tempur terus diasah dalam peran operatif, administratif, darurat dan peran khusus yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengukur sejauh mana kemampuan personel KRI dalam mengawaki peralatan di kapal sesuai dengan bagian masing-masing.

Kapal perang sebagai bagian dari komponen Sistim Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL, memilki tugas dan fungsi strategis dalam menjaga kedaulatan wilayah laut NKRI dan penegakan hukum di laut yurisdiksi nasional. Hal itu diperlukan kesiapan unsur-unsur KRI untuk mengemban tugas yang diberikan negara sewaktu-waktu diperlukan. Dengan pemeliharan dan perawatan yang rutin diharapkan semua unsur kapal perang dijajaran Koarmatim dapat melaksanakan tugas operasi laut setiap saat.

Sumber: Dispenarmatim

Selasa, 24 Januari 2012

Hasil Rapim TNI AL

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Soeparno (tengah), Wakil Kasal, Laksamana Madya TNI, Marsetio (kiri), dan Asisten Pengamanan Kasal, Laksamana Muda TNI, I Putu Yuli Adnyana (kanan), saat Rapat Pimpinan TNI AL di Cilangkap, Jakarta, Selasa( 24/1). Rapat Pimpinan TNI AL yang diikuti oleh para pejabat penentu kebijakan dan pelaksana, mengangkat tema, "Dengan dilandasi semangat baru, TNI Angkatan Laut bertekad menuntaskan reformasi birokrasi dan pembangunan kekuatan pokok minimum menuju terwujudnya TNI Angkatan Laut yang handal dan disegani". (Foto: ANTARA/ Ujang Zaelani/ss/pd/11)

24 Januari 2012, Jakarta: Rapim TNI Angkatan Laut adalah forum rapat pimpinan TNI Angkatan Laut yang dihadiri oleh para pejabat penentu kebijakan dan pelaksana, dengan maksud untuk menyampaikan pokok-pokok kebijakan Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Laut, sekaligus sebagai media untuk menerima masukan secara langsung dari peserta Rapim, hal tersebut dikatakan oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno saat membuka Rapim TNI AL tahun 2012 di Auditorium Detasemen Markas, Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (24/1).

Acara yang juga dihadiri oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Marsetio,M.M tersebut mengangkat tema, "Dengan Dilandasi Semangat Baru, TNI Angkatan Laut Bertekad Menuntaskan Reformasi Birokrasi dan Pembangunan Kekuatan Pokok Minimum (MEF) Menuju Terwujudnya TNI Angkatan Laut yang Handal dan Disegani".

Rapim TNI AL yang berlangsung selama satu hari tersebut akan membahas tentang Kebijakan dari Panglima TNI Tahun 2012 dengan sasaran meliputi, peningkatan kesiapan operasional melalui program pemantapan satuan, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program pendidikan dan latihan, peningkatan kesejahteraan prajurit dan PNS beserta keluarganya, serta peningkatan tertib administrasi dan hukum.

Selain membahas kebijakan dari Panglima TNI, Rapim TNI AL Tahun 2012 ini membahas pula beberapa substansi dan memperdalam berbagai sasaran program yang akan dilaksanakan oleh TNI AL tahun 2012, diantaranya:

a. Upaya pengoptimalisasian pendekteksian dini terhadap kegiatan-kegiatan yang berpotensi terhadap terjadinya pelanggaran hukum di laut dan gangguan keamanan di wilayah yurisdiksi nasional.

b. Kesiapan operasional dan gelar operasi berdasarkan prioritas perkiraan ancaman dan dinamika lingkungan strategis baik OMP dan OMSP dengan memanfaatkan semaksimal mungkin data intelijen operasi dan data dari pengamatan IMSS.

c. Kegiatan pengadaan alutsista secara bertahap dalam rangka mewujudkan MEF dengan memberdayakan industri dalam negeri dan upaya Transfer Of Technology(TOT).

d. Melanjutkan pembangunan fasilitas, sarana dan prasarana pangkalan meliputi dermaga, runway, shelter pesud, bengkel dan dockyard, messing, fasilitas kesehatan, tangki timbun dan jaringan listrik dengan prioritas pembangunan di daerah rawan konflik untuk mendukung penyelenggaraan operasi dan latihan.

e. Upaya memantapkan peningkatan kesiapan satuan operasional melalui program pengadaan, revitalisasi, modernisasi alutsista beserta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

f. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang terencana dan latihan bertingkat serta berlanjut.

g. Upaya mewujudkan pembinaan program dan anggaran sesuai arah kebijakan program anggaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah serta berdasarkan skala prioritas.

Selain itu dibahas juga upaya dari TNI AL dalam meningkatkan dan membangun kemampuan TNI AL diantaranya:

a. Membahas rencana pembentukan Komando Wilayah Laut (Kowila) RI di Surabaya, Komando Armada (Koarmada) Timur di Sorong, Koarmada Tengah di Makassar, Koarmada Barat di Jakarta, dan Divisi-3 Marinir di Sorong, serta melanjutkan pembangunan gedung Mako Lanal Melonguane dan Morotai.

b. Peningkatan pelaksanaan tugas TNI AL melalui Operasi Militer untuk Perang (OMP) dengan melaksanakan operasi pengamanan perbatasan wilayah laut, Malacca Strait Sea Patrol (MSSP) dan operasi siaga tempur laut wilayah Barat dan Timur.

c. Peningkatan pelaksanaan tugas TNI AL melalui Operasi Militer Selain Perang (OMSP) antara lain patroli terkoordinasi dengan negara tetangga (India, Thailand, Malaysia, Singapura, Philipina dan Australia). Operasi pengamanan obyek vital nasional dan obyek vital TNI, operasi anglamil, operasi khusus menghadapi aksi kekerasan bersenjata di laut, operasi khusus menghadapi gerakan separatis bersenjata, operasi bantuan bencana dan SAR, operasi bantuan kepada pemerintah, operasi PAM VVIP, pam ALKI, opskamla, operasi perdamaian dunia, operasi gaktib dan yustisi.

d. Peningkatan pelaksanaan tugas TNI AL dalam operasi penegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional Indonesia serta operasi surta hidrografi.

e. Peningkatan pelaksanaan tugas diplomasi Angkatan Laut dalam rangka mendukung kebijakan politik luar negeri pemerintah.

f. Peningkatan pelaksanaan tugas TNI AL dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra laut.

g. Peningkatan pelaksanaan pemberdayaan wilayah pertahanan matra laut.

Sumber: Dispenal Mabesal

KRI Pati Unus Muhibah ke India

KRI Pati Unus-384 korvet kelas Parchim. (Foto: Dispenal)

24 Januari 2012, Jakarta: Salah satu Kapal Republik Indonesia (KRI) di bawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) yakni KRI Pati Unus-384 melakukan muhibah ke Port Blair India. Muhibah tersebut diberi sandi Operasi Satuan Tugas (Satgas) MILAN 2012.

Selain memenuhi undangan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) India pada kegiatan MILAN 2012, kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kerja sama dan mempererat hubungan baik Angkatan Laut India dan Angkatan Laut Indonesia maupun kedua negara yang telah terbina selama ini.

KRI Pati Unus-384 yang dikomandani Letkol Laut (P) Eka Prabawa, sehari-harinya merupakan kapal di bawah binaan Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmabar merupakan perwakilan dari Angkatan Laut Indonesia untuk berpatisipasi dalam kegiatan MILAN 2012 yang diselenggarakan Angkatan Laut India.

Operasi Satgas MILAN 2012 mempunyai sasaran di antaranya terjalinnya kerja sama antar Angkatan Laut Indonesia dengan Angkatan Laut Negara peserta Milan 2012,Tercapainya diplomasi TNI AL sebagai salah satu tugas yang diembannya, tercapainya tingkat kesiapan unsur TNI AL dalam hal ini KRI Pati Unus-384 sesuai dengan fungsi asasinya, terpeliharanya profesionalisme ABK melalui latihan selama Lintas Laut dan Passex.

KRI Pati Unus-384 yang terlibat dalam MILAN 2012 akan mengikuti serangkaian kegiatan. Di antaranya, kunjungan muhibah TNI AL (KRI PTS – 384) ke Port Blair India, mengikuti seminar tentang ”Building Capacity Through Maritime Cooperation”, Diskusi dan latihan bersama Angkatan Laut India (Table Top Exercise), olah raga bersama, cocktail party, atraksi kebudayaan dan makanan tradisional, kirab kota dan Passex.

Pelayaran KRI Pati Unus-384 menuju Port Blair India telah dilaksanakan sejak minngu 22 Januari 2012 dengan rute Jakarta – Tanjung Uban – Sabang – Port Blair – Belawan - Tanjung Uban – Jakarta. Personel yang terlibat dalam Satgas MILAN 2012 ini berjumlah 102 Personel terdiri dari 85 orang ABK KRI Pati Unus-384, 12 orang Staf Satgas MILAN 2012, satu orang Bintara Kesehatan dari Diskesarmabar, dua orang penyelam dari Dislambairarmabar dan dua orang staf Dispenarmabar.

Sumber: PRLM

Senin, 23 Januari 2012

KASAL: Pengembangan Armada RI Selesai 2014

Sejumlah anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL Koarmatim, menggunakan Sea Raider melintas di depan jajaran kapal perang, di Dermaga Ujung Koarmatim, Surabaya, Jatim, Kamis (20/1). Komando Armada Kawasan Timur (Koarmatim) terus melakukan kesiapan alutsista untuk mendukung operasi pengamanan pulau terluar di wilayah timur Indonesia. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ss/Spt/12)

24 Januari 2012, Jakarta: Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno mengatakan, pengembangan Armada RI menjadi tiga Komando Wilayah Laut (Kowila), diharapkan selesai pada 2014.

"Masih dikaji dan jika perlu pengembangan Armada RI juga sejalan dengan pengembangan organisasi di TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat sehingga kita bersama-sama," katanya seperti dikutip dari Lembaga Kantor Berita Antara di Jakarta, Selasa (24/1/2012).

Ditemui usai membuka Rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut 2012, Soeparno mengatakan pengembangan armada RI itu akan berjalan sesuai tahapan skala prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Strategis (Renstra) TNI Angkatan Laut (AL) hingga 2024.

Ia mengatakan, pengembangan Armada RI menjadi tiga komando wilayah didasarkan pada luas wilayah perairan nasional yang cukup luas dan kondisi lingkungan strategis yang tengah berkembang.

Selain itu, pengembangan komando wilayah laut dari saat ini dua komando, Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) dan Komando RI Kawasan Timur (Koarmatim), menjadi tiga komando wilayah laut, merupakan penjabaran dari renstra TNI AL hingga 2024 untuk mewujudkan TNI AL yang besar, kuat dan profesional, lanjutnya.

Terkait pergeseran fokus kekuatan Amerika Serikat ke Asia Pasifik, salah satunya dengan penempatan pasukan Marinirnya di Darwin yang berdampak meningkatnya pelayaran kapal-kapal militer asing terutama melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia II dan III, Kasal menilai masih bisa diantisipasi dengan pengamanan oleg Komando Armada RI Kawasan Barat dan Komando Armada RI Kawasan Timur.

"Kekuatan di dua komando armada yang telah ada itu kan bisa dimobilisasi, sesuai kebutuhan. Dan dengan tercapainya kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Forces/MEF) maka semua bisa dikoordinasikan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat ancaman yang dihadapi, dan perkembangan lingkungan strategis yang ada," kata kasal menambahkan.

Tetapi, lanjut Soeparno, pihaknya berharap pengembangan armada tersebut dapat diselesaikan pada 2014.

Direncanakan, Komando Wilayah Laut (Kowilla) Barat akan berkedudukan di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), Kowilla Tengah di Makassar (Sulawesi Selatan), dan Kowila Timur berpusat di Sorong, Papua.

Dalam Rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut 2012, dibahas beberapa agenda utama yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan, pembinaan personel, kesejahteraan prajurit dan reformasi birokrasi.

Sumber: KOMPAS

Mandi Khatulistiwa di KRI Dewaruci


22 Januari 2012, Samudera Pasifik: Sudah menjadi tradisi setiap KRI yang melewati garis khatulistiwa pada koordinat 0 derajat akan diadakan ritual mandi khatulistiwa bagi personel yang belum pernah melaksanakannya.

Bagi mereka yang sudah pernah melaksanakan mandi khatulistiwa di KRI lain, tetap harus melakukannya kembali di KRI Dewaruci. Sebaliknya bagi yang telah melaksanakan mandi khatulistiwa di KRI Dewaruci, berlaku untuk seluruh KRI.

Inilah salah satu keunikan mandi khatulistiwa di KRI Dewaruci, selain mendapatkan sertifikat.

Minggu (22/1/2012), tepat tujuh hari pelayaran KRI Dewaruci, Komandan KRI Dewaruci Letkol Laut (P) Haris Bima Bayusetyo mengadakan mandi khatulistiwa bagi para peserta muhibah. KRI Dewaruci diberangkatkan pada Minggu (15/1/2012) oleh Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Soeparno di Dermaga Ujung, Komando Armada RI Kawasan Timur di Surabaya, Jawa Timur.

Pada sore harinya, selepas shalat Magrib berjamaah, suara-suara dari para dewa-dewa sudah berkumandang keras melalui pengeras suara yang dipasang di tiap-tiap lorong dan sudut ruangan.

Terdapat 19 orang yang dijadwalkan pada 0 derajat akan melaksanakan mandi khatulistiwa, terdiri dari dua perwira berpangkat kapten yaitu Kapten Laut (E) Romsi Bakti Malios selaku Perwira Staf Intelejen (Pasintel) dan Kapten Laut (KH) Sapto Budiarso selaku Perwira Penerangan (Papen). Sedangkan bintara dan tamtama sebanyak 16 orang. Tidak ketinggalan dua wartawan Kompas TV, seorang wartawan Jawa Pos.

Tepat pukul 19.00, para "pelaut-pelaut muda yang kotor" sebutan bagi personel yang akan dibaptis, siap berpakaian dinas, menunggu di ruang anggota. Ketika acara dimulai satu persatu mereka diperintah merayap dilorong sampai tiga kali putaran dengan bisingnya suara para dewa dan banyaknya para punggawa yang menghadang di lorong-lorong, dilanjutkan dengan naik ke geladak. Orientasi ini dilaksanakan dengan gerakan merayap dengan tujuan agar lebih mengenal, menghafal kapal.

Mereka lalu dimandikan dengan air laut dan datanglah Dewa Neptunus sebagai penguasa kerajaan dasar laut. Dewa Neptunus melaporkan dan minta izin kepada komandan, Letkol Laut (P) Haris Bima Bayusetyo.

"Kegiatan seperti ini rutin dilaksanakan ketika melewati garis khatulistiwa dan berlaku buat siapa saja yang ikut dalam pelayaran dan belum mempunyai sertifikat dari KRI Dewaruci" kata Haris.

Dini hari keesokan harinya, suara dewa-dewa dan tawa para punggawa sudah menghiasi kapal. Para pelaut-pelaut muda sudah siap untuk mengikuti ritual mandi khatulistiwa, seperti kegiatan malam sebelumnya, namun hanya mengenakan celana dalam saja.

Sesampai di geladak Dewa Neptunus melaporkan kepada komandan bahwa pembabtisan akan segera dimulai agar pelaut-pelaut muda yang kotor menjadi bersih, tidak kangen daratan dan menjadi pelaut sejati.

Diawali dengan menaiki tiang Bima dan Arjuna, dilumuri dengan oli dan stempet di sekujur tubuhnya dan tak luput dari semprotan air laut, satu persatu dipanggil Dewa Neptunus yang disebelah kirinya telah duduk putri cantik yang biasa di sebut Dewi Emprit.

Ketika satu persatu dipanggil diangkat oleh para punggawa dan kepalanya dicelupin ke oli dan melapor kepada Dewa Neptunus bahwa siap dibabtis. Mereka kemudian mencium kaki Dewa Neptunus dan Dewi Emprit.

Acara selasai pukul 09.00 dan kapal tetap berlayar di Samudera Pasifik, melaju dengan kecepatan delapan knot, pada koordinat 0'16.564 - 132'26.731 T.

"Kegiatan ini sungguh indah dikenang akan tetapi tidak enak dilaksanakan apalagi diulang," ungkap Palaksa KRI Dewaruci, Mayor Laut (P) Osben Alibos Naibaho, sambil mengenang 12 tahun silam ketika masih menjadi kadet.

KRI Dewaruci sedang menjalankan misi pelayaran panjang mengelilingi empat benua selama 277 hari, berlayar ke 21 kota di Asia, Amerika, Eropa, dan Afrika.

Sumber: KOMPAS

Minggu, 15 Januari 2012

Saran DPR, Kapal Baru Tetap Bernama Dewaruci

KRI Dewa Ruci. (Foto: Kompas/Wahyu Haryo PS)

15 Januari 2012, Jakarta: Tidak ada "keraguan politik" sedikitpun dari DPR untuk mendukung reinkarnasi Dewaruci. Sokongan itu dibuktikan dengan telah diberikannya persetujuan terhadap usulan pembelian kapal layar tipe tiang tinggi (tall ship) yang baru berikut anggarannya di APBN. Kalangan DPR berharap kapal latih TNI AL yang baru itu tetap diberi nama Dewaruci.

"KSAL secara resmi sudah melaporkan ke komisi I. Kami sudah setuju dan merencanakan pembelian kapal yang baru," kata Wakil Ketua Komisi I (Pertahanan) DPR TB Hasanuddin di Jakarta, Sabtu (14/1).

Sebelumnya, KSAL Laksamana TNI Soeparno juga telah menyampaikan bahwa TNI AL menganggarkan dana USD 80 juta atau sekitar Rp 720 miliar untuk membeli kapal pengganti Dewaruci. "Saya lupa rinciannya. Tapi, penganggarannya multiyears. Yang jelas tahun 2014 diharapkan sudah selesai pembuatannya," kata Hasanuddin.

Sampai saat ini, TNI AL masih belum memutuskan perusahaan yang akan mengerjakan pembuatan kapal layar tiang tinggi. Proses penjajakan masih dilakukan terhadap sejumlah negara. KRI Dewaruci sendiri dibuat di Jerman Barat oleh H.C. Stulchen & Sohn Hamburg pada tahun 1952. Pertama diluncurkan dari pabrik pada 24 Januari 1953. Setengah tahun kemudian dilayarkan ke Indonesia oleh Taruna/Kadet Akademi Angkatan Laut.

Sekalipun menyerahkan sepenuhnya kepada TNI AL untuk teknis pemesanannya, Hasanuddin meminta kapal baru ini memiliki fasilitas dan sarana yang lebih bagus dari Dewaruci. "Saya tidak paham soal teknis. Tapi, saya dengar untuk kapal layar tipe tiang tinggi itu yang legendaris justru dari Spanyol. Tapi, terserah yang tahu teknis," ujar politisi PDIP, itu.

Dia menyarankan supaya kapal baru ini tetap diberi nama Dewaruci. Bahkan, sejumlah ornamen dari kapal Dewaruci "lama" perlu dipindahkan ke Dewaruci "baru".

"Supaya kesannya di dunia, kapal baru ini tetap Dewaruci. Bagaimanapun Dewaruci ini sudah menjadi lambang dan identitas ini Angkatan Laut Indonesia," kata Hasanuddin.

Bukan hanya itu, sebagai kapal latih, Dewaruci pernah melatih ribuan perwira dan melahirkan laksamana yang tak terhitung jumlahnya. "Saya sendiri sewaktu masih taruna Angkatan Darat pernah masuk ke sana, berlayar dengan teman "teman taruna dan kadet dari Angkatan Laut. Kapal ini melegendaris," ujar alumni AKABRI angkatan 1975, itu.

Aspek historis inilah salah satu pertimbangan DPR untuk menyetujui "reinkarnasi" Dewaruci yang kini sudah berusia lanjut. Hasanuddin mengatakan Dewaruci telah menjadi kebanggaan para taruna/kadet Angkatan Laut dan pelaut di Indonesia pada umumnya.

"Kapal ini bisa berlayar lintas dunia hanya dengan tiang tinggi dan layar. Sedikit dilengkapi sarana setengah modern," sanjungnya.

Untuk pertempuran laut, kapal layar tipe tiang tinggi semacam Dewaruci jelas sudah ketinggalan zaman dan sangat tidak efektif. Tapi, Dewaruci memainkan peran diplomasi yang sangat strategis ke dunia internasional. Peran ini juga penting dalam konteks pertahanan secara keseluruhan.

Hasanuddin menuturkan setiap tahun, Dewaruci melakukan misi "misi pelayaran keliling dunia. Sempat menjelajahi perairan Indonesia pada 2009, Dewaruci menempuh rute panjang ke Eropa pada 2010 dan berkeliling Asia pada 2011. Itu hanya sebagian contoh kecil saja. Saat singgah di negara asing, para taruna dan kader Angkatan Laut ini juga mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia.

"Dewaruci ini multifungsi. Mulai misi "misi kelautan, pelatihan taruna dan kadet, sampai untuk promosi bangsa Indonesia. Makanya, perlu dicari gantinya," tegas Hasanuddin.

Terhadap Dewaruci "lama", Hasanuddin menyarankan supaya tidak "diporsir" lagi fisiknya. Museum Angkata Laut menjadi tempat baru yang paling pas. "Para taruna dan generasi penerus harus tahu bahwa, di era modern, kapal ini pernah berkeliling dunia hanya dengan layar. Ini membuktikan eksistensi kita sebagai negara bahari," tandasnya.

Sumber: JPPN