Sabtu, 24 September 2011

PDIP Masalahkan Pembelian Heli Rusia

Foto: Kedutaan Besar Federasi Rusia)

21 September 2011, Jakarta (VIVAnews): Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Tubagus Hasanuddin mengungkapkan enam heli MI-17 yang baru didatangkan dari Rusia ternyata peralatannya tidak lengkap. Menurut dia, berdasar keterangan sejumlah pihak berwenang di Kementerian Pertahanan, terjadi kenaikan harga, sehingga nilai uang saat kontrak ditandatangani tak lagi cukup untuk membeli helikopter dan seluruh perlengkapan.

"Kami mau pertanyakan lebih jauh, apakah benar duitnya tak cukup? Kenapa dulu tak minta tambahan anggaran ke DPR? Kenapa memilih memaksa membeli dengan keadaan kosong?" ujar politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu di Jakarta, Rabu 21 September 2011.

Menurut dia, hal itu perlu diklarifikasi lebih lanjut ke Kementerian Pertahanan. "Sampai sekarang mereka belum pernah jelaskan ke kami. Akan ditanyakan kepada Menteri Pertahanan saat agenda bertemu hari Rabu," ujarnya.

Anggota Komisi I lainnya yang juga dari PDIP, Tritamtomo, mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera mengaudit proses pembelian enam unit helikopter TNI AD itu. Menurutnya, berdasarkan temuan lapangan, heli-heli baru dari Rusia tersebut setidaknya tak memiliki enam alat pendukung utama seperti Global Positioning System (GPS), peredam kebisingan (dumper), alat komunikasi, transponder, dan senjata.

"Kami inginkan agar alutsista yang kita beli itu selalu bisa dioperasionalkan utk cegah tangkal setiap ancaman, kita harap siap dan siaga operasi," katanya. "Saya heran, bagaimana mungkin helikopter yang jenisnya disegani karena kualitasnya, tapi tanpa perangkat."

Menurut dia, seluruh kondisi tersebut bisa dicarikan solusi terbaik, termasuk mengajukan penambahan anggaran ke DPR dan Pemerintah. Namun, dia menilai Kemenhan tidak berinisiatif. Sehingga, menimbulkan kecurigaan di benak para anggota Komisi I bahwa ada proses yang tak beres dalam proses pengadaan.

"Ini sekarang sudah kita buka, silakan aparat yang berwenang menyelidikinya. Lebih afdol bila BPK segera mengaudit," kata Tritamtomo.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan bahwa tidak ada anggaran yang digelapkan oleh Kementeriannya. Hal itu telah disampaikan Purnomo di hadapan Komisi I DPR beberapa waktu lalu.

Enam Heli TNI Dipersoalkan, Ini Kata Menhan

(Foto: Kedutaan Besar Federasi Rusia)

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mempersilakan Badan Pemeriksa Keuangan mengaudit pengadaan helikopter MI-17 milik TNI AD dari Rusia. Dia menilai proses pengadaan itu sudah sesuai ketentuan yang berlaku.

Hal ini menanggapi pernyataan legislator asal PDI Perjuangan yang mempersoalkan peralatan heli yang tidak lengkap. Purnomo mengatakan kelengkapan peralatan heli merupakan persoalan teknis. "Itu bukan di level saya. Ada spektek namanya, spesifikasi teknis," jelasnya sebelum rapat kerja dengan Komisi I DPR, Rabu 21 September 2011.

Selain itu, heli itu milik AD, bukan Kementerian Pertahanan. Dengan demikian, persoalan ini perlengkapan menjadi kewenangan Mabes TNI.

"Sudah, itu masalah teknis, tidak usah debat. Kalau memang ada masalah ditelusuri saja. Buka saja dulu, ordernya apa, kemudian yang datang apa. Sudah selesai di situ."

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Tubagus Hasanuddin mengungkapkan enam heli MI-17 yang baru didatangkan dari Rusia ternyata peralatannya tidak lengkap.

Berdasar keterangan sejumlah pihak berwenang di Kementerian Pertahanan, lanjutnya, terjadi kenaikan harga sehingga nilai uang saat kontrak ditandatangani tak lagi cukup untuk membeli helikopter dan seluruh perlengkapan.

Sumber: VIVAnews

Jumat, 23 September 2011

Ganti Alutsista, Kodam Tunggu Keputusan Pusat Satuan

Pangdam I Bukit Barisan yang baru, mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI Lodewijk F Paulus menggantikan Mayjen TNI Leo JP Siegers yang pindah tugas sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat. (Foto: Mohammad Hilmi Faiq/KOMPAS)

22 September 2011, Medan (MedanPunya.Com): Komando Daerah Militer (Kodam) I Bukit Barisan menunggu keputusan pusat satuan tempur mengenai pergantian sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang sudah tidak layak pakai.

"Pada dasarnya, kami hanya menerima," kata Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Lodewijk Paulus.

Pangdam mengatakan, setiap pusat satuan di lingkungan TNI-AD memiliki kewenangan dalam menentukan pergantian alutsista, terutama yang sudah tidak layak pakai.

Ia mencontohkan, persenjataan di Batalyon Infanteri lebih ditentukan dari pertimbangan Pusat Infanteri di Mabes TNI.

Demikian juga dengan satuan lain seperti Batalyon Kavaleri, Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Arhanud), dan Artileri Medan (Armed).

Dengan kewenangan itu, kepastian perlu tidaknya pergantian alutsista tersebut sangat tergantung pada pusat satuan yang ada di TNI-AD tersebut. Meski tidak membantah tentang kemungkinan untuk mengajukan usulan, tetapi hal itu hanya menjadi pertimbangan mengenai kondisi persenjataan di Kodam I Bukit Barisan.

Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu menegaskan pihaknya menerima segala keputusan yang dikeluarkan pusat satuan tempur tersebut.

"TNI-AD memiliki pertimbangan mana yang harus diprioritaskan," katanya.

Menurut catatan, pemerintah menganggarkan sekitar Rp99 triliun untuk biaya perawatan dan pembelian sejumlah alutsista hingga tahun 2014.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, alokasi anggaran itu merupakan salah satu hal yang dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Ini program nasional yang langsung di bawah koordinasi Presiden," katanya.

Pangdam BB Prioritaskan Penanganan Terorisme

Panglima Kodam I/Bukit Barisan Mayor Jenderal TNI Lodewijk F Paulus memprioritaskan empat hal dalam kepemimpinannya, yakni demokrasi, pemberantasan terorisme, HAM, dan lingkungan hidup. Dia meminta dukungan tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk mensukseskan programnya.

Demikian dikatakan Lodewijk seusai acara serah terima jabatan di Markas Kodam I/BB di Medan, Rabu (21/9/2011). Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini menggantikan Mayor Jenderal TNI Leo JP Siegers yang pindah tugas sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat.

Lodewijk menjelaskan, domokrasi di wilayahnya yakni Sumut, Sumbar, Riau, dan Kepulauan Riau perlu dikawal. Ini terutama menjelang banyaknya pemilihan kepala daerah.

Mengenai terorisme, dia akan mengoptimakan peran Bintara Pembina Desa (Babinsa) dengan program deteksi dini. "Istilah kami, harus meningkatkan asas temu cepat lapor cepat," ujarnya.

Pria kelahiran Manado 1957 ini menjelaskan, pelanggaran HAM di wilayahnya tidak begitu menonjol. Namun, dia akan terus menanamkan nilai-nilai HAM kepada anak buahnya agar bisa diterapkan dalam setiap bertugas.

Yang juga menjadi perhatian mantan Asisten Operasi Kasdam I/BB ini adalah adanya lahan kritis di sumut seluas 430.000 hektar. Untuk itu, dia akan menghijaukannya. "Contoh paling nyata yang ada di sekitar Danau Toba," pungkasnya.

Sumber: MedanPunya.com/Kompas

Pemerintah Harus Serius Bangun Kekuatan Pertahanan


23 September 2011, Jakarta (ANTARA News): Anggota Komisi I DPR RI Syahfan Badri Sampurno mengatakan pemerintah harus lebih serius menjalankan komitmen untuk membangun postur kekuatan utama pertahanan negara.

"Meski kemampuan anggaran kita terbatas, namun komitmen tetap harus dilaksanakan," kata Syahfan di Jakarta, Jumat.

Untuk itu, Menhan juga harus meningkatkan efisiensi anggaran dengan memperbesar porsi pemenuhan kebutuhan anggaran minimal (minimum essential force/MEF) Alutsista, dibandingkan dengan belanja operasional dan barang-barang lainnya, kata Syahfandi.

Dikatakannya bahwa kenaikan pengajuan anggaran Kementerian Pertahanan/TNI hingga 29,5 persen dari tahun sebelumnya dianggap masih belum optimal.

Hal ini dikarenakan penganggaran yang direncanakan belum memenuhi target percepatan pemenuhan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) sesuai dengan MEF Komponen Utama yang direncanakan pada 2012.

Berdasarkan laporan Menhan dalam pengajuan anggaran dan Rencana Awal Kerja Pemerintah Tahun 2012, Kemhan dan TNI mendapat alokasi anggaran Rp61,5 triliun atau naik sekitar 29,5 persen dari sebelumnya Rp47,5 triliun.

Namun dari kenaikan tersebut, ujarnya, sebagian besar digunakan untuk belanja operasional seperti gaji pegawai dan belanja barang operasional. Sedangkan program Pemenuhan Alutsista MEF Tahun 2012 baru dianggarkan Rp6 trilyun

"Sesuai Rencana Strategis Pembangunan TNI, Pemenuhan Alat Utama MEF Tahun 2012 seharusnya bisa mencapai Rp12 triliun, namun dari laporan Menteri Pertahanan ternyata baru dianggarkan Rp6 triliun. Ini masih jauh dari optimal," ujarnya.

Karena itu, politisi PKS ini ini mendukung peningkatan anggaran pemenuhan Alutsista MEF untuk komponen utama dan memperkecil porsi belanja operasional dan barang.

Syahfan juga menyoroti permasalah yang sering muncul di Kemhan dalam hal pengadaan Alutsista.

Dalam pengamatan Syahfan, pengadaan Alustsista biasanya memakan waktu cukup lama, minimal 6 bulan, apalagi jika diimpor bisa 18-24 bulan.

Lamanya waktu pemesanan juga menjadikan proses ini rentan melanggaran peraturan perundang-undangan dan system manajemen penganggaran negara, karena akan melawati tahun anggaran yang berjalan.

Pemerintah harus memberikan kebijaksanaan untuk mengakomodir pengadaan Alutsista agar bisa dilaksanakan secara lintas tahun anggaran.

Payung hukumnya bisa dibuat dengan memasukkan klausul di Undang-Undang atau dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), ujarnya.

Sumber: ANTARA News

Kamis, 22 September 2011

Komandan UNIFIL Kunjungi Indobatt

Komandan Kompi Alpha Kapten Inf Sigit Purwoko (kiri) memberikan penjelasan kepada Komandan UNIFIL Major General Alberto Asarta Cuevas (ketiga kiri) ketika meninjau ke area operasi INDOBATT (pos observasi B 78) yang merupakan sensitive area blue line (perbatasan Israel-Lebanon) yang dijaga oleh prajurit Kompi Alpha didaerah El Addaisse, Lebano Selatan, Kamis, (22/9). Kunjungan kerja ini dalam rangka melihat secara langsung kinerja pasukan INDOBATT yang sedang melaksanakan observasi dan penjagaan serta memastikan perkembangan situasi di sekitar area pos observasi B 78. (Foto: ANTARA/HO-Sertu Marinir Kuwadi/ed/Spt/11)

22 September 2011, El Addaisse, Lebanon Selatan (Jurnas.com): Komandan UNIFIL Major General Alberto Asarta Cuevas, meninjau area Pos Observasi B 78 yang dijaga prajurit Kompi Alpha Indobatt. Area operasi Indobatt ini merupakan sensitive area blue line, yaitu perbatasan Israel-Lebanon yang berada di daerah El Addaisse, Lebanon Selatan.

Komandan Indobatt Letkol inf Hendy Antariksa didampingi Kasiops Mayor Inf Hendriawan Senjaya dan Komandan Kompi Alpha Kapten Inf Sigit Purwoko menyambut kedatangan Komandan UNIFIL ini. Saat kunjungan tersebut, dia menerima paparan singkat Komandan Kompi Alpha Kapten Inf Sigit Purwoko tentang perkembangan situasi perbatasan Israel-Lebanon yang berada dalam pengawasan prajurit Kompi Alpha yang berjaga di Pos Observasi B 78.

Menurut Dansatgas Indobatt Konga XXIII-E/UNIFIL, Letkol Inf Hendy Antariksa dalam siaran pers yang diterima Jurnal Nasional pagi ini, kunjungan Komandan UNIFIL itu bertujuan untuk melihat secara langsung kinerja pasukan Indobatt yang sedang melaksanakan observasi dan penjagaan serta memastikan perkembangan situasi di sekitar area Pos Observasi B 78.

Jenderal berbintang dua asal Spanyol itu berpesan kepada seluruh prajurit Indobatt agar tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi segala kemungkinan ketegangan diantara kedua belah pihak yang bisa saja terjadi setiap saat.

Sensitive area blue line yang berada dalam pengawasan Pos Observasi B 78 tersebut merupakan salah satu hotspot yang rawan akan peningkatan ketegangan diantara kedua belah pihak.

Sumber: Jurnas

Raker Menhan dengan Komisi I DPR/RI : DPR Masih Mengkaji Hibah Pesawat F 16


22 September 2011, Jakarta (DMC): Menteri Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro yang didampingi Wamenhan Sjafrie Sjamsoedin, Sekjen Marsdya TNI Eris Herryanto dan Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat serta sejumlah staf ahli, Rabu (21/9) di Jakarta, mengadakan Rapat Kerja dengan komisi I DPR terkait dengan rencana Hibah 30 Pesawat Tempur F-16 dari Amerika Serikat.

Dalam rapat tersebut, Komisi I menyatakan masih akan mengkaji dan mendalami berbagai permasalahan yang mungkin akan timbul, agar dapat mengambil keputusan yang tepat. Sedangkan Menhan menyatakan tidak keberatan dengan keputusan yang ditunda dan akan menunggu keputusan final Komisi I DPR.

Sementara sebelumnya dalam Raker, Sekjen Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Heryanto menjelaskan, hibah F-16 itu menggunakan skema Foreign Millitary Sale (FMS). Dimana melalui skema tersebut, tanggung jawab ditanggung oleh pihak AS, dan Indonesia tidak perlu membayar pajak atau jasa, namun standar pesawat yang dihibahkan sesuai dengan standar pesawat militer yang dipergunakan Amerika Serikat

Selain itu, lanjut Sekjen melanjutkan penjelasannya, saat ini proses hibah sedang memasuki tahap penandatanganan Letter Of Accetance (LoA) antara pemerintah RI dengan AS, yang akan ditandatangani pada Februari 2012. Dengan harapan, pada Maret 2012 pesawat tempur F-16 sudah bisa datang dan pada 2014 menyusul 16 sampai 20 pesawat yang datang.

Rencana Hibah pesawat F-16 merupakan bagian dari program Excess Defence Articel (EDA) yang sudah melalui persetujuan Kongres Amerika Serikat dengan rincian spesifikasi pesawat 28 F-16 block 25, dan 2 pesawat lainnya memiliki spesifikasi block 15, sama seperti yang dimiliki Indonesia saat ini.

Sumber: Kemhan

Kesiapan Brigade Pendarat Korps Marinir

22 September 2011, Surabaya (ANTARA News): Sejumlah prajurit Marinir dari Pasmar-1, melakukan parameter tempur di sekitar material tempur, dalam Gelar Kesiapan Pasukan Brigade Pendarat dan Material Tempur Pasmar-1 di Bhumi Marinir Karangpilang Surabaya, Kamis (22/9). Gelar kesiapan yang juga dikunjungi Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen TNI J Suryo Prabowo tersebut, bertujuan untuk mengukur kesiapan Brigade Pendarat dan material tempur Pasmar-1 dalam menjaga keutuhan NKRI. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/Koz/mes/11)



Sejumlah material tempur yang dimiliki Pasmar-1, siap melakukan manuver tempur dalam Gelar Kesiapan Pasukan Brigade Pendarat dan Material Tempur Pasmar-1 di Bhumi Marinir Karangpilang Surabaya. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/Koz/mes/11)

Kasum TNI Kunjungi Bhumi Marinir Surabaya

Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen TNI J Suryo Prabowo. (kiri), mencermati sejumlah senjata laras panjang yang dimiliki Pasmar-1, saat kunjungan dalam rangka Gelar Kesiapan Pasukan Brigade Pendarat dan Material Tempur Pasmar-1 di Bhumi Marinir Karangpilang Surabaya, Kamis (22/9). Gelar kesiapan tersebut bertujuan untuk mengukur kesiapan Brigade Pendarat Pasmar-1 dalam menjaga keutuhan NKRI. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/Koz/mes/11)

22 September 2011, Surabaya (ANTARA News): Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI J Suryo Prabowo mengunjungi sarang prajurit petarung di Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis.

Dalam kunjungan itu, Kasum yang didampingi sejumlah pejabat teras TNI itu diterima Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) M Alfan Baharudin beserta pejabat teras Korps Marinir.

Kedatangan Kasum TNI disuguhi simulasi pendaratan pantai oleh 3.000 prajurit Marinir yang diawali dengan ledakan "bungalore torpedo" oleh tim Zeni-1 Marinir untuk menandai lokasi pendaratan sudah aman.

Selanjutnya, pendaratan pasukan pendarat yang dipimpin Komandan Brigif-1 Mar Kolonel Mar Amir Faisol dengan mengendarai Tank BMP- 3F (tank terbaru yang dipunyai Koprs Marinir saat ini) itu diikuti Tank PT 76, Ranfib, kendaraan pengangkut perahu karet, kapal pengangkut Howitzer, dan Roket RM 70 Grad.

Pendaratan juga diikuti personel Infanteri cadangan pendaratan serta pasukan pendukung Organisasi Logistik Pantai atau juga disebut gelombang atas panggilan yang didemonstrasikan di lapangan apel Bhumi Marinir Karangpilang.

Setelah itu, Kasum TNI melakukan pemeriksaan pasukan dengan memeriksa kesenjataan Korps Marinir dari mulai kesenjataan perorangan yang dibawa personel pendarat hingga melihat pelaksanaan naik-turun Howitzer ke Kapa, dan pelaksanaan penembakan Howitzer.

Kasum TNI meninjau persenjataan Denjaka. (Foto: Puspen TNI)

Kasum TNI berfoto bersama prajurit Denjaka. (Foto:Puspen TNI)

Kasum TNI juga sempat melakukan inspeksi ke tenda kesehatan yang diterima oleh Danyon Kes-1 Mar Mayor Laut (K) dr Aryo Sakso B.

Di sela-sela pemeriksaan dan inspeksi itu, Kasum memerintahkan Dan Brigrat untuk menyanyikan lagu Mars Korps Marinir bersama seluruh prajurit sehingga menggetarkan Bhumi Marinir Karangpilang Surabaya.

"Saya sudah melihat ketrampilan rekan-rekan kalian, saya melihat gelar pendaratan satu Brigrat dan kesehatan lapangan, saya percaya kalian bisa diandalkan untuk menjaga kedaulatan NKRI," kata Kasum TNI dalam amanatnya.

Namun, katanya, semua kemampuan itu hanya untuk melaksanakan tugas negara, hanya untuk bertempur melawan musuh yang menggangu kedaulatan NKRI dan bukan untuk berkelahi antar-prajurit, apalagi dengan polisi.

"Semua kemampuan kalian hanya untuk menegakkan kedaulatan negara," katanya, didampingi Dankormar juga melaksanakan 'tour facility' ke lapangan tembak Jusman Puger Karangpilang Surabaya yang sedang dibangun Koprs Marinir dengan menaiki BMP 3F.

Sumber: ANTARA News